Ottoman and Khilafah EuphoriaThe Ottoman Khilafah was precisely called a “daulah” rather than a Khilafah in many ways. The hadith “A’immah (Khalifah) min Quraish” is a requirement from nabi for a khalifah. Because of this, the Egyptian Mamaluk Kingdom, which housed the last Abbasid Khilafah, was not presumptuous in using the term khilafau until the Ottoman sultan Salim I took it from Egypt, according to one source. Not to mention if we look at the aqidah tarekat Bektasiyah that they adhere to and their actions in the 1800s which fought Tauwhid and insulted many Muslimah. Don’t praise it too much so that the people know the true nature of this ottoman. Worried that it will backfire in the future.Wallahua’lamQuoted from: Ustadz Jafar Shalih وفقه اللهTranslated by : أبو مريم الجاوي وفقه اللهDate: 21 August 2020Source: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Us3CvXLcUopmtSgCoAiP57CHEjwHKXrKRHL8mprF1Np3EDSna9nqhxJXtPMFDvDXl&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz

Ottoman and Khilafah EuphoriaThe Ottoman Khilafah was precisely called a "daulah" rather than a Khilafah in many ways. The hadith "A'immah (Khalifah) min Quraish" is a requirement from nabi for a khalifah. Because of this, the Egyptian Mamaluk Kingdom, which housed the last Abbasid Khilafah, was not presumptuous in using the term khilafau until the … Lanjutkan membaca Ottoman and Khilafah EuphoriaThe Ottoman Khilafah was precisely called a “daulah” rather than a Khilafah in many ways. The hadith “A’immah (Khalifah) min Quraish” is a requirement from nabi for a khalifah. Because of this, the Egyptian Mamaluk Kingdom, which housed the last Abbasid Khilafah, was not presumptuous in using the term khilafau until the Ottoman sultan Salim I took it from Egypt, according to one source. Not to mention if we look at the aqidah tarekat Bektasiyah that they adhere to and their actions in the 1800s which fought Tauwhid and insulted many Muslimah. Don’t praise it too much so that the people know the true nature of this ottoman. Worried that it will backfire in the future.Wallahua’lamQuoted from: Ustadz Jafar Shalih وفقه اللهTranslated by : أبو مريم الجاوي وفقه اللهDate: 21 August 2020Source: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Us3CvXLcUopmtSgCoAiP57CHEjwHKXrKRHL8mprF1Np3EDSna9nqhxJXtPMFDvDXl&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz

📎 DOA KAFARATUL MAJELIS

📎 DOA KAFARATUL MAJELISRasulullah shallallahu alaihi wasallam mengucapkan ketika di akhir (pertemuan) ketika beliau akan bangun dari majelis, dengan sebuah doa :سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ"Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu … Lanjutkan membaca 📎 DOA KAFARATUL MAJELIS

Jauhi Judi Supaya Anda Tidak Rugi

Jauhi Judi Supaya Anda Tidak RugiOlehUstadz Abu Isma’il Muslim وفقه اللهMencintai harta merupakan fitrah manusia. Oleh karena itu, sebagian orang berusaha meraih harta dengan segala cara, tanpa peduli halal maupun haram. Di antara cara meraih harta yang disukai banyak orang adalah dengan berjudi. Karena jika beruntung, pelakunya akan bisa meraup harta dalam jumlah fantastis tanpa … Lanjutkan membaca Jauhi Judi Supaya Anda Tidak Rugi

ورفض الشيخ صالح العصيمي وفقه الله الإجابة على هذا السؤالAsy-Syaikh Shalih Al-Ushaimi وفقه الله menolak untuk menjawab pertanyaan ini Asy-Shaykh Shalih Al-Ushaimi وفقه الله refused to answer this question

ورفض الشيخ صالح العصيمي وفقه الله الإجابة على هذا السؤالAsy-Syaikh Shalih Al-Ushaimi وفقه الله menolak untuk menjawab pertanyaan ini Asy-Shaykh Shalih Al-Ushaimi وفقه الله refused to answer this question

Sekelompok pengembos jih4d Filistine dari kalangan murji’ah berupaya mendeskeditkan seorang pejuang Imam dan khatib Masjid di Filistine yang juga salah satu komandan Al-Qassm dengan menyatakan belum tentunya husnul khatimah-lah, dengan menyetir sebagian fatwa. Maka kita jawab, benar mereka belum tentu husnul khatimah. Apalagi kalian para pengembos, sudah aqidah kalian aqidah para murji’ah, mengembos jih4d, mentahdzir serampangan kaum musliminOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 6 Januari 2024Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1870657676721535&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Sekelompok pengembos jih4d Filistine dari kalangan murji'ah berupaya mendeskeditkan seorang pejuang Imam dan khatib Masjid di Filistine yang juga salah satu komandan Al-Qassm dengan menyatakan belum tentunya husnul khatimah-lah, dengan menyetir sebagian fatwa. Maka kita jawab, benar mereka belum tentu husnul khatimah. Apalagi kalian para pengembos, sudah aqidah kalian aqidah para murji'ah, mengembos jih4d, mentahdzir … Lanjutkan membaca Sekelompok pengembos jih4d Filistine dari kalangan murji’ah berupaya mendeskeditkan seorang pejuang Imam dan khatib Masjid di Filistine yang juga salah satu komandan Al-Qassm dengan menyatakan belum tentunya husnul khatimah-lah, dengan menyetir sebagian fatwa. Maka kita jawab, benar mereka belum tentu husnul khatimah. Apalagi kalian para pengembos, sudah aqidah kalian aqidah para murji’ah, mengembos jih4d, mentahdzir serampangan kaum musliminOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 6 Januari 2024Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1870657676721535&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Sradak sruduk asal Tahdzir adalah benalu dalam barisan. Toleran dalam penyimpangan ushul juga penyakit mematikan dalam beragama. Maka mengetahui ushul manhaj dan ketentuan kapan seseorang tidak lagi dianggap sebagai ahlis sunnah adalah sesuatu hal yang sangat urgen, terlebih dizaman fitnah saat ini. Agar tidak menjadi penganut pluralis manhaj dan juga penganut manhaj sradak sruduk. #ganyang_manhaj_sradaksruduk#ganyang_hizbiyyahDinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 11 Januari 2018Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=392369421217042&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Sradak sruduk asal Tahdzir adalah benalu dalam barisan. Toleran dalam penyimpangan ushul juga penyakit mematikan dalam beragama. Maka mengetahui ushul manhaj dan ketentuan kapan seseorang tidak lagi dianggap sebagai ahlis sunnah adalah sesuatu hal yang sangat urgen, terlebih dizaman fitnah saat ini. Agar tidak menjadi penganut pluralis manhaj dan juga penganut manhaj sradak sruduk. #ganyang_manhaj_sradaksruduk#ganyang_hizbiyyahDinukil … Lanjutkan membaca Sradak sruduk asal Tahdzir adalah benalu dalam barisan. Toleran dalam penyimpangan ushul juga penyakit mematikan dalam beragama. Maka mengetahui ushul manhaj dan ketentuan kapan seseorang tidak lagi dianggap sebagai ahlis sunnah adalah sesuatu hal yang sangat urgen, terlebih dizaman fitnah saat ini. Agar tidak menjadi penganut pluralis manhaj dan juga penganut manhaj sradak sruduk. #ganyang_manhaj_sradaksruduk#ganyang_hizbiyyahDinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 11 Januari 2018Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=392369421217042&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahmatullah ‘alaihi berujar tentang sikap ahlussunah wal jama’ah terhadap para sahabat Radhiyallahu ‘anhum :”Mencintai mereka adalah Sunnah, mendoakan kebaikan untuk mereka adalah amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, meneladani mereka adalah sebuah sarana menuju ketaatan, dan mengambil riwayat-riwayat mereka adalah sebuah keutamaan”(Thabaqat Al-Hanabilah jilid 1 hal. 63-64)Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 6 Juni 2018Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0HUYJ596g6Yvy5nArkoa84SEmHqTvvLo9j3efRiHVAUoFasN7nKzyDFRzXUAQxPC5l&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahmatullah 'alaihi berujar tentang sikap ahlussunah wal jama'ah terhadap para sahabat Radhiyallahu 'anhum :"Mencintai mereka adalah Sunnah, mendoakan kebaikan untuk mereka adalah amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, meneladani mereka adalah sebuah sarana menuju ketaatan, dan mengambil riwayat-riwayat mereka adalah sebuah keutamaan"(Thabaqat Al-Hanabilah jilid 1 hal. 63-64)Oleh : Ustadz Abu Hanifah … Lanjutkan membaca Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahmatullah ‘alaihi berujar tentang sikap ahlussunah wal jama’ah terhadap para sahabat Radhiyallahu ‘anhum :”Mencintai mereka adalah Sunnah, mendoakan kebaikan untuk mereka adalah amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, meneladani mereka adalah sebuah sarana menuju ketaatan, dan mengambil riwayat-riwayat mereka adalah sebuah keutamaan”(Thabaqat Al-Hanabilah jilid 1 hal. 63-64)Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 6 Juni 2018Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0HUYJ596g6Yvy5nArkoa84SEmHqTvvLo9j3efRiHVAUoFasN7nKzyDFRzXUAQxPC5l&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

قيل لأحمد بن حنبل رحمه الله:الرجل يصوم ويصلي ويعتكف أحبُّ إليك أو يتكلم في أهل البدع ؟ ! فقال: إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه ، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل[المجموع (۲۳۱/۲۸)] .Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala pernah ditanya: “Seseorang yang beribadah untuk dirinya sendiri, apakah ini lebih kamu sukai daripada orang lain yang dia membahas tentang penyimpangan-penyimpangan bid’ah?” Maka Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين؛ هذا أفضل“Kalau dia melaksanakan ibadah shalat, beri’tikaf, maka manfaatnya terbatas pada dirinya sendiri. Tapi kalau dia membantah ahlul bid’ah, maka ini manfaatnya untuk dirinya sendiri dan semua kaum muslimin, maka ini yang lebih utama.” [المجموع (۲۳۱/۲۸)] .

قيل لأحمد بن حنبل رحمه الله:الرجل يصوم ويصلي ويعتكف أحبُّ إليك أو يتكلم في أهل البدع ؟ ! فقال: إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه ، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل[المجموع (۲۳۱/۲۸)] .Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala pernah ditanya: “Seseorang yang beribadah untuk dirinya sendiri, apakah ini lebih … Lanjutkan membaca قيل لأحمد بن حنبل رحمه الله:الرجل يصوم ويصلي ويعتكف أحبُّ إليك أو يتكلم في أهل البدع ؟ ! فقال: إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه ، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل[المجموع (۲۳۱/۲۸)] .Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala pernah ditanya: “Seseorang yang beribadah untuk dirinya sendiri, apakah ini lebih kamu sukai daripada orang lain yang dia membahas tentang penyimpangan-penyimpangan bid’ah?” Maka Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين؛ هذا أفضل“Kalau dia melaksanakan ibadah shalat, beri’tikaf, maka manfaatnya terbatas pada dirinya sendiri. Tapi kalau dia membantah ahlul bid’ah, maka ini manfaatnya untuk dirinya sendiri dan semua kaum muslimin, maka ini yang lebih utama.” [المجموع (۲۳۱/۲۸)] .

Murji’ah menjadikan seseorang menjadi liberalis dan Pluralis. Tengoklah seseorang yang mengatakan “Yang penting hatinya, buat apa amal ini itu kalau hatinya bla bla”. Ini adalah murji’ah, yang meyakini maksiat tidak mengurangi iman, yang tidak meyakini amalan sebagai penambah keimanan. Kelak ia juga yang akan membenarkan semua agama, ragu terhadap kebenaran absolut agamanya, sehingga ia pun menjadi murtad baik ia sadari atau ia tidak sadari. Silahkan anda kroscek dan survey sendiri mengenai hal ini. Ini adalah fakta bahwa sumber masalah kita ialah bobroknya Aqidah, kesyrikkan yang merajalela, ummat tidak mengenal pembatal-pembatal keislaman sehingga pagi hari mereka beriman, tidak perlu menunggu petang untuk menjadi murtad karena disiang hari ia sudah menjadi pluralis dengan membenarkan semua agama. Hanya orang-orang yang bermasalah pada ilmu dan Aqidah yang mengatakan bahwa fokus dakwah kita saat ini bukan masalah Aqidah.Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 1 September 2019Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Jkb3fCHaQfQR32UWTbWTh96YsEyv9X9vQMJkYU4Z3qRdmEW76aPyJyeBzEpiggf5l&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Murji'ah menjadikan seseorang menjadi liberalis dan Pluralis. Tengoklah seseorang yang mengatakan "Yang penting hatinya, buat apa amal ini itu kalau hatinya bla bla". Ini adalah murji'ah, yang meyakini maksiat tidak mengurangi iman, yang tidak meyakini amalan sebagai penambah keimanan. Kelak ia juga yang akan membenarkan semua agama, ragu terhadap kebenaran absolut agamanya, sehingga ia pun … Lanjutkan membaca Murji’ah menjadikan seseorang menjadi liberalis dan Pluralis. Tengoklah seseorang yang mengatakan “Yang penting hatinya, buat apa amal ini itu kalau hatinya bla bla”. Ini adalah murji’ah, yang meyakini maksiat tidak mengurangi iman, yang tidak meyakini amalan sebagai penambah keimanan. Kelak ia juga yang akan membenarkan semua agama, ragu terhadap kebenaran absolut agamanya, sehingga ia pun menjadi murtad baik ia sadari atau ia tidak sadari. Silahkan anda kroscek dan survey sendiri mengenai hal ini. Ini adalah fakta bahwa sumber masalah kita ialah bobroknya Aqidah, kesyrikkan yang merajalela, ummat tidak mengenal pembatal-pembatal keislaman sehingga pagi hari mereka beriman, tidak perlu menunggu petang untuk menjadi murtad karena disiang hari ia sudah menjadi pluralis dengan membenarkan semua agama. Hanya orang-orang yang bermasalah pada ilmu dan Aqidah yang mengatakan bahwa fokus dakwah kita saat ini bukan masalah Aqidah.Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 1 September 2019Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Jkb3fCHaQfQR32UWTbWTh96YsEyv9X9vQMJkYU4Z3qRdmEW76aPyJyeBzEpiggf5l&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz