Kebanyakan pelawak / komika mengolok-olok Islam, mereka tidak berani mengolok-olok Pancasila atau NKRI. Kenapa ?
Karena Pancasila lebih suci mungkin di sanubari mereka, dan NKRI harga mati
Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin
Tanggal : 7 April 2020
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Q9CUHw7nEkjSPJvVwBH1YRhW1WYCFcci1nz6k8JRuUjp1RUBKYdoeMJypWCkF4cil&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
======
Mengolok-olok Nabi shalallahu alaihi wa sallam adalah murtadd, tidak ada udzur bil jahl disini kecuali dipaksa. Bahkan orang-orang yang hadir ditengah pelecehan dan olok-olok terhadap Nabi shalallahu alaihi wa sallam pun terancam jika mereka tidak mengingkari. Inilah kesepakatan para ulama. Bahkan sebagian murji’ah pun (pernah saya posting) memurtaddkan pengolok-olok agama.
Mengkafirkan orang yang telah Allah dan Rasul-Nya kafirkan terlebih berdasarkan kesepakatan para ulama adalah tuntutan tauhid. Yang tidak mengkafirkan mungkin orang yang belum paham, atau mengaku paham namun level murjiahnya sudah level planet mars.
Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin
Tanggal : 3 Mei 2019
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02dC2P8RRwqctK24orjwJC3y6hVCksXN1Gcicr9Zuqur2mRfWc11pZApvSEmaTSZsNl&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
======
Ada pelawak / komika yang mengolok-olok agama, namun hadirin tidak mengingkari bahkan malah tertawa, maka hadirin hukumnya sama seperti si pengolok = Kafir
Asy-Syaikh Bin Baz dan ulama lainnya semisal Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan rahimahumallah menjelaskan hal ini bahwa orang yang hadir ditengah pengolok agama namun ia tidak mengingkari, maka ia dianggap meridhai kekufuran tersebut dan ia diserupakan dengan yang mengolok-olok.
Ketika kaum munafiq sedang berkumpul, salah seorang diantara mereka mengolok-olok Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat. Namun Allah memvonis semua yang hadir di majelis tersebut dengan vonis yang sama seperti orang yang mengolok-olok tadi. Allah ta’ala berfirman :
قل أبالله و آياته و رسوله كنتم تستهزءون
“Katakanlah kepada mereka apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya, dan Rasulnya KALIAN mengolok-olok ?”
Maka Allah menyandarkan olok-olok kepada mereka semua yang hadir, kecuali seorang sahabat yang mendengar ucapan olok-olok tersebut dan langsung mengingkari kemudian mengadukan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Mengapa demikian ? Karena kaum munafiq yang lainnya tidak mengingkari orang tersebut, maka Allah memvonis rata mereka semua karena mereka diam dari kemungkaran, jadilah mereka sekutu kemungkaran.
Bagaimana kalau seseorang yang hadir tidak sanggup mengingkari kemungkaran dengan tangan dan lisannya ? Maka ia wajib memisahkan diri dari majelis tersebut, karena jika ia diam walau hatinya tidak menyukai…ia tetap dihukumi sebagai orang yang sepakat dengan olok-olok tersebut.
Allah ta’ala berfirman :
إنكم إذا مثلهم
“Kalau begitu kalian seperti mereka”
Allah ta’ala juga berfirman :
إذا سمعتم آيات الله يكفر و يستهزأ فلا تقعدوا معهم
“Apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan di olok-olok, maka janganlah duduk bersama mereka ….”
Sumber bacaan :
Subulus Salam Syarh Nawaqidh al-Islam
I’anah Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-tauhid
Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam
Diringkas oleh al-faqir abu hanifah ibn Yasin
Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin
Tanggal : 7 April 2019
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid034SXo6xnbS92UPiYKBm7BqFtmm4EfJZLVoMsvki9XcFt9WrSYLvf4oCbhtSEP4ckil&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz