Kalau keberadaan “Mushhaf Al-Qur’ãn Terjemahan” masih mereka anggap belum cukup sebagai hujjah atas pelaku syirk akbar di Hindia ini maka apa penilaian mereka terhadap kenalan-kenalan kita yang masuk Islâm karena sebab membaca “Mushhaf Al-Qur’ãn Terjemahan”?!.

Dahulu kaum Jâhiliyyah tidak diberi udzur karena hujjah telah sampai kepada mereka, di antara bentuknya adalah Injîl yang diterjemahkan oleh Waraqah bin Naufal, berkata ‘Âisyah Ash-Shiddîqah Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ

“Dahulu beliau menulis “Al-Kitâbul ‘Ibrânî, beliau menulis dari Injîl ke bahasa ‘Ibrânî. Mâsyâ Allâh beliau menulis.” Riwayat Al-Bukhârî.

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7117