Syekh Al Allamah Hamud At Tuwaijari rahimahhulah menerangkan,” Dan termasuk sebab terbesar asingnya Islam di kalangan kaum muslimin ialah ketika mereka meninggalkan jihad Fi Sabilillah ,dan di gantikan mental atau perasaan tak berdaya dan merasa hina( minder) di hadapan musuh musuh Alloh,dari kalangan orang orang kafir dan munafig,dan bersahabat dengan mereka dan menemui mereka dengan kasih sayang. Dan mereka ( kaum) muslimin meninggalkan Jihad dan di tambah dengan berbagai tindakan menyelisihi perintah perintah Alloh,dan melanggar larangan Nya,di samping lemahnya sikap kaum muslimin dan perpecahan yang terjadi di kalangan mereka,maka musuh musuh Alloh menguasai negara negara islam. Sebagian di kuasai dengan kekuatan militer sebagian di kuasai dengan tipu daya dan makar jahat. Maka kaum muslimin hidup di bawah aturan hukum para musuh Alloh,dan orang kafir itu begitu merendahkan kaum muslimin,dan jadilah kaum muslimin seperti orang orang kafir dzimi di masa awal negara islam. Orang-orang kafir itu menerapkan hukum thaghut( hukum syetan) dalam bentuk undang undang kafir,dan sistim perpolitikan kafir yang salah dan jahat dan kaum muslimin di paksa untuk mencari keadillan dari hukum kafir tersebut.” ( Ghurbatul Islam,hal 877). Dinukil dari : NurSalim وفقه اللهTanggal : 24 Februari 2024Sumber : https://www.facebook.com/share/Pn9rjsjji1j4ZRs1/?mibextid=oFDknk
Syekh Al Allamah Hamud At Tuwaijari rahimahhulah menerangkan," Dan termasuk sebab terbesar asingnya Islam di kalangan kaum muslimin ialah ketika mereka meninggalkan jihad Fi Sabilillah ,dan di gantikan mental atau perasaan tak berdaya dan merasa hina( minder) di hadapan musuh musuh Alloh,dari kalangan orang orang kafir dan munafig,dan bersahabat dengan mereka dan menemui mereka dengan … Lanjutkan membaca Syekh Al Allamah Hamud At Tuwaijari rahimahhulah menerangkan,” Dan termasuk sebab terbesar asingnya Islam di kalangan kaum muslimin ialah ketika mereka meninggalkan jihad Fi Sabilillah ,dan di gantikan mental atau perasaan tak berdaya dan merasa hina( minder) di hadapan musuh musuh Alloh,dari kalangan orang orang kafir dan munafig,dan bersahabat dengan mereka dan menemui mereka dengan kasih sayang. Dan mereka ( kaum) muslimin meninggalkan Jihad dan di tambah dengan berbagai tindakan menyelisihi perintah perintah Alloh,dan melanggar larangan Nya,di samping lemahnya sikap kaum muslimin dan perpecahan yang terjadi di kalangan mereka,maka musuh musuh Alloh menguasai negara negara islam. Sebagian di kuasai dengan kekuatan militer sebagian di kuasai dengan tipu daya dan makar jahat. Maka kaum muslimin hidup di bawah aturan hukum para musuh Alloh,dan orang kafir itu begitu merendahkan kaum muslimin,dan jadilah kaum muslimin seperti orang orang kafir dzimi di masa awal negara islam. Orang-orang kafir itu menerapkan hukum thaghut( hukum syetan) dalam bentuk undang undang kafir,dan sistim perpolitikan kafir yang salah dan jahat dan kaum muslimin di paksa untuk mencari keadillan dari hukum kafir tersebut.” ( Ghurbatul Islam,hal 877). Dinukil dari : NurSalim وفقه اللهTanggal : 24 Februari 2024Sumber : https://www.facebook.com/share/Pn9rjsjji1j4ZRs1/?mibextid=oFDknk
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله berkata :الحق منصور، وإن قلّ أتباعه، والباطل مخذول، ولو كثر أتباعه”Kebenaran pasti tertolong, meskipun sedikit pengikutnya. Sementara kebathilan takkan ditolong (oleh Allah), meskipun banyak pengikutnya.”____📚 Syarah al-Kaafiyah as-Syaafiyah 1/178
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله berkata :الحق منصور، وإن قلّ أتباعه، والباطل مخذول، ولو كثر أتباعه"Kebenaran pasti tertolong, meskipun sedikit pengikutnya. Sementara kebathilan takkan ditolong (oleh Allah), meskipun banyak pengikutnya."____📚 Syarah al-Kaafiyah as-Syaafiyah 1/178
Sa’id bin Al-Musayyib رحمه الله berkata,.فَإِنَّ عِبَادَةَ اللَّهِ لَيْسَتْ بالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ، وَلَكِنْ بِالفِقْهِ فِي دِيْنِهِ وَالتَّفَكُّرِ فِي أَمْرِهِ.“Sesungguhnya ibadah kepada Allah itu tidak cukup hanya dengan puasa dan sholat saja, namun harus disempurnakan dengan pemahaman terhadap agama-Nya dan perenungan tentang kekuasaan-Nya ”.__.📚 Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih: 1/118.
Sa'id bin Al-Musayyib رحمه الله berkata,.فَإِنَّ عِبَادَةَ اللَّهِ لَيْسَتْ بالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ، وَلَكِنْ بِالفِقْهِ فِي دِيْنِهِ وَالتَّفَكُّرِ فِي أَمْرِهِ.“Sesungguhnya ibadah kepada Allah itu tidak cukup hanya dengan puasa dan sholat saja, namun harus disempurnakan dengan pemahaman terhadap agama-Nya dan perenungan tentang kekuasaan-Nya ”.__.📚 Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih: 1/118.
Khutbah esok temanya mau kekinian -insyaallah- “Sekte Murji’ah Adalah Gerbang Menuju Liberal”Masyarakat harus diberikan edukasi apa itu murji’ah, karena pada prakteknya ada diantara masyarakat yang terjatuh ke dalam sekte ini dengan menyatakan “Yang penting hatinya, buat apa shalat ? Buat apa berhijab ? Kalau hatinya masih kotor” Kemudian, setelah gerbang murji’ah mereka masuki, maka kubangan Liberalisme, Sekulerisme, pluralisme akan menyambut mereka dan inilah yang telah terjadi. Allahul Musta’an. Mereka membenarkan semua agama, tidak mengkafirkan orang kafir, menghalalkan apa yang telah jelas keharamannya semisal zina dll. Rencana khuthbah esok live audio insyaallahOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 5 September 2019 Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=760098984444082&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
Khutbah esok temanya mau kekinian -insyaallah- "Sekte Murji'ah Adalah Gerbang Menuju Liberal"Masyarakat harus diberikan edukasi apa itu murji'ah, karena pada prakteknya ada diantara masyarakat yang terjatuh ke dalam sekte ini dengan menyatakan "Yang penting hatinya, buat apa shalat ? Buat apa berhijab ? Kalau hatinya masih kotor" Kemudian, setelah gerbang murji'ah mereka masuki, maka kubangan … Lanjutkan membaca Khutbah esok temanya mau kekinian -insyaallah- “Sekte Murji’ah Adalah Gerbang Menuju Liberal”Masyarakat harus diberikan edukasi apa itu murji’ah, karena pada prakteknya ada diantara masyarakat yang terjatuh ke dalam sekte ini dengan menyatakan “Yang penting hatinya, buat apa shalat ? Buat apa berhijab ? Kalau hatinya masih kotor” Kemudian, setelah gerbang murji’ah mereka masuki, maka kubangan Liberalisme, Sekulerisme, pluralisme akan menyambut mereka dan inilah yang telah terjadi. Allahul Musta’an. Mereka membenarkan semua agama, tidak mengkafirkan orang kafir, menghalalkan apa yang telah jelas keharamannya semisal zina dll. Rencana khuthbah esok live audio insyaallahOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 5 September 2019 Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=760098984444082&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum orang yang tidak mengetahui bahwa menyembelih dan bernadzar untuk selain Allah adalah kesyirikan, beliau menjawab bahwa orang seperti ini selain dihukum musyrik juga tetap diajarkan perkara sebenarnya (Bayan Li bida’ Mu’ashirah fil Iman hal. 45). Demikianlah ulama Rabbani dalam membimbing ummat.Saat ini kita hanya mempelajari hukum orang yang tidak shalat hanya untuk menghukumi semata, padahal hakikatnya ialah agar kita merasa khawatir pada diri kita dan orang lain akan dampak dahsyat yang mengerikan bagi orang yang meninggalkan shalat. Bahkan lisan dan tulisan begitu fasih dan membuat takjub karena penuh rujukan tatkala membahas hukum orang yang meninggalkan shalat, namun orang-orang disekitar yang tidak shalat baik tetangga, rekan kerja bahkan sanak famili yang tidak shalat tidak diberi arahan akan wajibnya shalat, tidak diberikan peringatan. Ada apa ini ?Sebagian kita hanya mumpuni teori Ushul dakwah dan sekelumitnya, ternyata kemungkaran didepan mata secara nyata tidak mampu kita ingkari, padahal hanya sekedar mengajak orang yang shalat agar ia shalat, apa susahnya ? Malu ? Tidak enak ? Karena tidak kenal ? Apakah rela terus berada dalam kubangan Adh’aful Iman karena tak kuasa mengajak mereka shalat dengan tangan atau lisan.Lebih menyesakkan lagi ialah kita telah terpedaya oleh banyaknya komunitas ngaji di sosmed, friendlist yang bejibun dari kalangan ustadz dan ikhwan ngaji apalagi ketika kopdar kita merasa kita ini “banyak”, sehingga fokus dakwah kita ialah rudud seputar pengajian, bantah membantah antara pro madzhab fiqih dan anti bermadzhab plus dengan kutipan ushul fiqih yang membuat decak kagum. Padahal ketika kita kembali ke kehidupan nyata di lingkungan, tempat kerja dan keluarga besar, bisa jadi hanya kita yang kenal apa itu hakikat kesyirikan dan hukum meninggalkan shalat misalnya, namun kita tidak mampu menjelaskan hal ini kepada mereka. Allahul Musta’anLihatlah kenyataan, jangan tertipu dengan komunitas pengajianmu yang sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan ummat Islam secara umum di negeri ini. Penyakit yang ada pada ummat sangat dahsyat dan kompleks, mulai dari kesyirikan, maksiat, bid’ah, keyakinan kekufuran sekalerisme, pluralisme, liberalisme. Banyak masyarakat yang sudah tidak peduli dengan agama, bahkan stigma fanatik dan mabok agama sudah tertuju kepada setiap orang yang berupaya komitmen dengan agama. Apa yang harus kita lakukan ? Kita terjun langsung, Medan dakwah luas tidak terbatas di mimbar dan meja kajian. Bahkan seluruh para Rasul terjun langsung datang menjumpai ummatnya mengajak manusia ke jalan Allah baik pasar, jalan, atau mendatangi rumah-rumah mereka. Sebagian rekan menyatakan : “Preman atau orang jalananitu biar dibawa jt ke masjid, nanti setelah di masjid kita yang bawa ke majelis taklim”. Kenapa tidak kita saja sekalian yang membawa preman tersebut ke masjid dan mengenal kajian Islam ? Kapan kita mulai ? Sekarang !Berilah peringatan kepada setiap insan, sebelum hal tersebut dilarang….Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 29 Agustus 2019Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02mnoRkmQzQhg5ghFGKenRKeXJY8tdaJbCFSRRfMwAZFdjuZ7KqeJhJdwJ2nLWx26ul&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum orang yang tidak mengetahui bahwa menyembelih dan bernadzar untuk selain Allah adalah kesyirikan, beliau menjawab bahwa orang seperti ini selain dihukum musyrik juga tetap diajarkan perkara sebenarnya (Bayan Li bida' Mu'ashirah fil Iman hal. 45). Demikianlah ulama Rabbani dalam membimbing ummat.Saat ini kita hanya mempelajari hukum orang … Lanjutkan membaca Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah ditanya mengenai hukum orang yang tidak mengetahui bahwa menyembelih dan bernadzar untuk selain Allah adalah kesyirikan, beliau menjawab bahwa orang seperti ini selain dihukum musyrik juga tetap diajarkan perkara sebenarnya (Bayan Li bida’ Mu’ashirah fil Iman hal. 45). Demikianlah ulama Rabbani dalam membimbing ummat.Saat ini kita hanya mempelajari hukum orang yang tidak shalat hanya untuk menghukumi semata, padahal hakikatnya ialah agar kita merasa khawatir pada diri kita dan orang lain akan dampak dahsyat yang mengerikan bagi orang yang meninggalkan shalat. Bahkan lisan dan tulisan begitu fasih dan membuat takjub karena penuh rujukan tatkala membahas hukum orang yang meninggalkan shalat, namun orang-orang disekitar yang tidak shalat baik tetangga, rekan kerja bahkan sanak famili yang tidak shalat tidak diberi arahan akan wajibnya shalat, tidak diberikan peringatan. Ada apa ini ?Sebagian kita hanya mumpuni teori Ushul dakwah dan sekelumitnya, ternyata kemungkaran didepan mata secara nyata tidak mampu kita ingkari, padahal hanya sekedar mengajak orang yang shalat agar ia shalat, apa susahnya ? Malu ? Tidak enak ? Karena tidak kenal ? Apakah rela terus berada dalam kubangan Adh’aful Iman karena tak kuasa mengajak mereka shalat dengan tangan atau lisan.Lebih menyesakkan lagi ialah kita telah terpedaya oleh banyaknya komunitas ngaji di sosmed, friendlist yang bejibun dari kalangan ustadz dan ikhwan ngaji apalagi ketika kopdar kita merasa kita ini “banyak”, sehingga fokus dakwah kita ialah rudud seputar pengajian, bantah membantah antara pro madzhab fiqih dan anti bermadzhab plus dengan kutipan ushul fiqih yang membuat decak kagum. Padahal ketika kita kembali ke kehidupan nyata di lingkungan, tempat kerja dan keluarga besar, bisa jadi hanya kita yang kenal apa itu hakikat kesyirikan dan hukum meninggalkan shalat misalnya, namun kita tidak mampu menjelaskan hal ini kepada mereka. Allahul Musta’anLihatlah kenyataan, jangan tertipu dengan komunitas pengajianmu yang sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan ummat Islam secara umum di negeri ini. Penyakit yang ada pada ummat sangat dahsyat dan kompleks, mulai dari kesyirikan, maksiat, bid’ah, keyakinan kekufuran sekalerisme, pluralisme, liberalisme. Banyak masyarakat yang sudah tidak peduli dengan agama, bahkan stigma fanatik dan mabok agama sudah tertuju kepada setiap orang yang berupaya komitmen dengan agama. Apa yang harus kita lakukan ? Kita terjun langsung, Medan dakwah luas tidak terbatas di mimbar dan meja kajian. Bahkan seluruh para Rasul terjun langsung datang menjumpai ummatnya mengajak manusia ke jalan Allah baik pasar, jalan, atau mendatangi rumah-rumah mereka. Sebagian rekan menyatakan : “Preman atau orang jalananitu biar dibawa jt ke masjid, nanti setelah di masjid kita yang bawa ke majelis taklim”. Kenapa tidak kita saja sekalian yang membawa preman tersebut ke masjid dan mengenal kajian Islam ? Kapan kita mulai ? Sekarang !Berilah peringatan kepada setiap insan, sebelum hal tersebut dilarang….Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 29 Agustus 2019Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02mnoRkmQzQhg5ghFGKenRKeXJY8tdaJbCFSRRfMwAZFdjuZ7KqeJhJdwJ2nLWx26ul&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
Bermadzhab Terlarang ?Para ulama besar dari dari kalangan mutaqaddimun, muta-akhkhirun, hingga kontemporer banyak kita ketahui bermadzhab, An-Nawawi, Ibnu Qudamah, Ibnu ‘Abdil Barr, Abu Ja’far, dan lainnya dari ratusan hingga ribuan ulama besar yang bermadzhab dari salah satu madzhab yang ada rahmatullah ‘alaihim. Bermadzhab dengan salah satu dari empat madzhab yang ada hanya bertujuan memudahkan kita untuk mengamalkan fiqih Islam yang sangat luas berdasarkan dalil dengan pemahaman para imam, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahmatullah ‘alaihi : “hati-hatilah anda dari berbicara masalah agama yang dalam permasalahan tersebut anda tidak memiliki sandaran imam (salaf).”Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim (guru Asy-Syaikh bin Baz dan Mufti sebelum beliau) rahmatullah ‘alaihima menuturkan :التمذهب بمذهب من المذاهب الأَربعة سائغ، بل هو بالإِجماع”Bermadzhab dengan salah satu dari madzhab yang empat adalah suatu perkara yang disetujui dalam syariat. Bahkan kebolehan bermadzhab tersebut berdasarkan kesepakatan para ulama.”Asy-Syeikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan setelah beliau membawakan perkataan para imam tentang wajibnya mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dan meninggalkan pendapat manusia (para Imam) beliau berkata : هذا هو مذهب أهل السنة و الجماعة، لا تعصب. لكن ليس معنى أن نرفض المذاهب و نتركها، بل نستفيد من المذاهب ومن فقه الأئمة. لأنه ثروة عظيمة، لكن نتابع الدليل، ومن كان معه دليل أخدنا بقوله، هذا هو الواجب ” ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak ada fanatisme buta. Akan tetapi BUKANLAH MAKNANYA KITA MENOLAK & MENINGGALKAN MADZHAB-MADZHAB, BAHKAN KITA MENGAMBIL FAIDAH DARI MADZHAB-MADZHAB DAN FIQIHNYA PARA IMAM. Karena itu semua adalah kekayaan ilmiyah yang sangat besar. Akan tetapi kita mengikuti dalil (dalam bermadzhab), barang siapa yang ia memiliki dalil, maka kita ambil pendapatnya tersebut, inilah yang wajib” (dikutip dari Syarh Masaail Al-Jahiliyyah hal. 45 terbitan Darul ‘Ashimah)SBS BekasiOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 22 April 2017Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Npz6kwLiTeJpwoSTo4v1G7Dt9BdrnbEwDPuUVZnEWmzbYrTbcTfYwRU4C66Ks2Ukl&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
Bermadzhab Terlarang ?Para ulama besar dari dari kalangan mutaqaddimun, muta-akhkhirun, hingga kontemporer banyak kita ketahui bermadzhab, An-Nawawi, Ibnu Qudamah, Ibnu 'Abdil Barr, Abu Ja'far, dan lainnya dari ratusan hingga ribuan ulama besar yang bermadzhab dari salah satu madzhab yang ada rahmatullah 'alaihim. Bermadzhab dengan salah satu dari empat madzhab yang ada hanya bertujuan memudahkan kita … Lanjutkan membaca Bermadzhab Terlarang ?Para ulama besar dari dari kalangan mutaqaddimun, muta-akhkhirun, hingga kontemporer banyak kita ketahui bermadzhab, An-Nawawi, Ibnu Qudamah, Ibnu ‘Abdil Barr, Abu Ja’far, dan lainnya dari ratusan hingga ribuan ulama besar yang bermadzhab dari salah satu madzhab yang ada rahmatullah ‘alaihim. Bermadzhab dengan salah satu dari empat madzhab yang ada hanya bertujuan memudahkan kita untuk mengamalkan fiqih Islam yang sangat luas berdasarkan dalil dengan pemahaman para imam, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahmatullah ‘alaihi : “hati-hatilah anda dari berbicara masalah agama yang dalam permasalahan tersebut anda tidak memiliki sandaran imam (salaf).”Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim (guru Asy-Syaikh bin Baz dan Mufti sebelum beliau) rahmatullah ‘alaihima menuturkan :التمذهب بمذهب من المذاهب الأَربعة سائغ، بل هو بالإِجماع”Bermadzhab dengan salah satu dari madzhab yang empat adalah suatu perkara yang disetujui dalam syariat. Bahkan kebolehan bermadzhab tersebut berdasarkan kesepakatan para ulama.”Asy-Syeikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan setelah beliau membawakan perkataan para imam tentang wajibnya mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dan meninggalkan pendapat manusia (para Imam) beliau berkata : هذا هو مذهب أهل السنة و الجماعة، لا تعصب. لكن ليس معنى أن نرفض المذاهب و نتركها، بل نستفيد من المذاهب ومن فقه الأئمة. لأنه ثروة عظيمة، لكن نتابع الدليل، ومن كان معه دليل أخدنا بقوله، هذا هو الواجب ” ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak ada fanatisme buta. Akan tetapi BUKANLAH MAKNANYA KITA MENOLAK & MENINGGALKAN MADZHAB-MADZHAB, BAHKAN KITA MENGAMBIL FAIDAH DARI MADZHAB-MADZHAB DAN FIQIHNYA PARA IMAM. Karena itu semua adalah kekayaan ilmiyah yang sangat besar. Akan tetapi kita mengikuti dalil (dalam bermadzhab), barang siapa yang ia memiliki dalil, maka kita ambil pendapatnya tersebut, inilah yang wajib” (dikutip dari Syarh Masaail Al-Jahiliyyah hal. 45 terbitan Darul ‘Ashimah)SBS BekasiOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 22 April 2017Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Npz6kwLiTeJpwoSTo4v1G7Dt9BdrnbEwDPuUVZnEWmzbYrTbcTfYwRU4C66Ks2Ukl&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
10 tahunan silam di medsos saya kerap mendapat cibiran, dianggap aneh : “salafi kok bermadzhab ?” hingga tahdzir karena kerap berbicara mengenai fiqih bermadzhab baik di majelis apalagi di medsos. Seperti biasa saya malah menjadi-jadi hahahaSebelumnya sudah banyak juga asaatidzah yang speak up terkait masalah ini baik yang terang-terangan Maupun yang tidak nampak di khalayak ataupun baru sebatas dalam hati saja memendam hasrat untuk ikut angkat bicara. Saat ini alhamdulillah mulai banyak masyaikh timur tengah para pakar madzhab Syafi’i yang mendedikasikan diri mengajar di berbagai pondok salafy sehingga banyak asaatidzah dan para penuntut ilmu yang cinta kebenaran sudah mulai terbiasa membahas fiqih madzhab yang pada 10 tahun belakangan dianggap tabu dikalangan pengajian salafy.Dahulu dua imam dakwah ahlus sunnah yaitu Ibnu Taimiyah hingga Muhammad bin Abdil Wahhab -rahmatullah alaihima- sangat gigih dalam dakwah dan sangat dahsyat perlawanan dan penolakan terhadap dakwah kedua imam tersebut namun tidak kita dapati bahwa penolakan itu dikarenakan karena Ibnu Taimiyyah Maupun Muhammad bin Abdil Wahhab berselisih dengan umat karena masalah fiqih, tidak !!! Jelas dalam pokok perkara yaitu aqidah. Saat ini banyak dai dan ikhwan penuntut ilmu berselisih dengan umat karena perbedaan fiqih dan bahkan sangat keras perselisihan tersebut yang sebenarnya masih bisa dipersatukan atau minimal saling toleran. Seandainya kita mempelajari madzhab terlebih madzhab yang dianut mayoritas kaum muslimin di negeri kita, tentulah perselisihan kita dengan mereka hanya pada masalah aqidah, tauhid syirik dan masalah prinsip lainnya.Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 14 Juni 2023Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1753801458407158&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
10 tahunan silam di medsos saya kerap mendapat cibiran, dianggap aneh : "salafi kok bermadzhab ?" hingga tahdzir karena kerap berbicara mengenai fiqih bermadzhab baik di majelis apalagi di medsos. Seperti biasa saya malah menjadi-jadi hahahaSebelumnya sudah banyak juga asaatidzah yang speak up terkait masalah ini baik yang terang-terangan Maupun yang tidak nampak di khalayak … Lanjutkan membaca 10 tahunan silam di medsos saya kerap mendapat cibiran, dianggap aneh : “salafi kok bermadzhab ?” hingga tahdzir karena kerap berbicara mengenai fiqih bermadzhab baik di majelis apalagi di medsos. Seperti biasa saya malah menjadi-jadi hahahaSebelumnya sudah banyak juga asaatidzah yang speak up terkait masalah ini baik yang terang-terangan Maupun yang tidak nampak di khalayak ataupun baru sebatas dalam hati saja memendam hasrat untuk ikut angkat bicara. Saat ini alhamdulillah mulai banyak masyaikh timur tengah para pakar madzhab Syafi’i yang mendedikasikan diri mengajar di berbagai pondok salafy sehingga banyak asaatidzah dan para penuntut ilmu yang cinta kebenaran sudah mulai terbiasa membahas fiqih madzhab yang pada 10 tahun belakangan dianggap tabu dikalangan pengajian salafy.Dahulu dua imam dakwah ahlus sunnah yaitu Ibnu Taimiyah hingga Muhammad bin Abdil Wahhab -rahmatullah alaihima- sangat gigih dalam dakwah dan sangat dahsyat perlawanan dan penolakan terhadap dakwah kedua imam tersebut namun tidak kita dapati bahwa penolakan itu dikarenakan karena Ibnu Taimiyyah Maupun Muhammad bin Abdil Wahhab berselisih dengan umat karena masalah fiqih, tidak !!! Jelas dalam pokok perkara yaitu aqidah. Saat ini banyak dai dan ikhwan penuntut ilmu berselisih dengan umat karena perbedaan fiqih dan bahkan sangat keras perselisihan tersebut yang sebenarnya masih bisa dipersatukan atau minimal saling toleran. Seandainya kita mempelajari madzhab terlebih madzhab yang dianut mayoritas kaum muslimin di negeri kita, tentulah perselisihan kita dengan mereka hanya pada masalah aqidah, tauhid syirik dan masalah prinsip lainnya.Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 14 Juni 2023Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1753801458407158&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz
Bagi saya bermadzhab hanya sarana untuk :1. Memudahkan untuk beribadah2. Menghindari diri dari menjadi Mujtahid dadakan dengan mentarjih permasalahan yang telah ditarjih oleh para imam mujtahidin3. Menyadarkan diri bahwa diri ini hanyalah muqallid bukan siapa-siapa, sehingga Amaliah kita diatas dalil dengan pemahaman para ulama mujtahidin.4. Menyelaraskan fiqih ibadah sehari-hari dengan masyarakat setempat pada perkara ijtihadiyyah sehingga masyarakat dapat menerima. Cukuplah casing yang dianggap aneh, jangan dianggap asing juga tata cara ibadah kita di mata masyarakat.5. Memudahkan sampainya dakwah Aqidah kepada masyarakat. Para ulama dahulu semisal Syaikhul Islam & MBAW rahimahumallah dll tidaklah berselisih dengan masyarakat sekitar pada permasalahan fiqih, karena fiqih mereka luwes dan melebur dengan masyarakat sekitar ketika itu. Penentangan yang ada ialah pada permasalahan inti dakwah yaitu permasalahan Aqidah. Bagaimana masyarakat mau memahami kesyirikan, kufurnya sekulerisme, liberalisme, dan sesatnya paham-paham yang menyimpang jika sudah terjadi perselisihan antara sang dai vs mad’u (masyarakat) tentang qunut Subuh, jahr/sirr basmalah, lafazh sayyidina dll ?6. Mengikuti arahan para ulama dakwah agar kita lebih sering menyampaikan nama-nama ulama yang dikenal masyarakat (misal ulama besar madzhab yang mereka anut) daripada nama ulama-ulama yang asing ditelinga mereka atau sudah mendapat stempel sebagai wahabi. Nasihat ini sering disampaikan oleh Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi di majelis Tafsir selepas ‘Ashar di Maktabah lantai dua rumah beliau (ketika masih di Makkah)7. Melatih diri menjadi sosok yang tidak mudah menghukumi sesat amaliah orang lain yang ternyata Amaliah mereka bersandar kepada dalil yang dipahami oleh para imam mujtahidin, seandainya mereka keliru sekalipun maka hal ini tidaklah membuat mereka tercela karena masuk kategori khilafiyah mu’tabar. Kecuali jika Amaliah mereka yang diselisihi tidak termasuk kedalam ranah khilafiyah yang mu’tabar.8. Mengikuti arahan para ulama semisal Ibnu Rajab rahimahullah agar kita beramal sesuai dengan dalil yang dipahami oleh para imam madzhab.Kita tidak merasa berat tatkala kita mendapati kaum muslimin bermadzhab atau tidak bermadzhab, namun kita akan terasa sakit dan sangat berat tatkala kaum muslimin tidak memahami hakikat kesyirikan, pembatal-pembatal keislaman, kufurnya sekulerisme dan Liberalisme yang sekarang sudah berseragam alirab Nusantara.Engkau yang masih menganggap masalah bermadzhab atau tidak bermadzhab prioritas dakwah dan pembahasan diskusi, musuh sudah masuk ke barisan kita. Musuh tidak lagi berada di seberang, namun sudah masuk ke barisan kita. Tuturan kaidah-kaidah dan segala macam teori hanya untuk membahas bermadzhab atau tidak bermadzhab bukanlah prioritas utama dan pertama….lihatlah kaum zindik dan kafirin asli terus bertubi-tubi mengancam kita.Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 2 Januari 2020Sumber : https://www.facebook.com/share/p/9zmyz3xpdQ76qTrZ/?mibextid=Nif5oz===Kalau boleh ditambahkan: 9. demikian juga yg dinasihatkan oleh ulama kita sekarang seperti syaikh Al Fauzan, jadi kita juga ngikut ulama kibar.10. selain itu dgn belajar madzhab ahlul bilad, kita bisa membedakan mana yg pendapat madzhab, mana yg produk nusantara dan menjelaskannya kepada ummatOleh : Ustadz Wira Bachrun وفقه اللهTanggal : 2 Januari 2020Sumber : https://www.facebook.com/share/p/yzh8qCsPY5bpYskp/?mibextid=Nif5oz
Bagi saya bermadzhab hanya sarana untuk :1. Memudahkan untuk beribadah2. Menghindari diri dari menjadi Mujtahid dadakan dengan mentarjih permasalahan yang telah ditarjih oleh para imam mujtahidin3. Menyadarkan diri bahwa diri ini hanyalah muqallid bukan siapa-siapa, sehingga Amaliah kita diatas dalil dengan pemahaman para ulama mujtahidin.4. Menyelaraskan fiqih ibadah sehari-hari dengan masyarakat setempat pada perkara ijtihadiyyah … Lanjutkan membaca Bagi saya bermadzhab hanya sarana untuk :1. Memudahkan untuk beribadah2. Menghindari diri dari menjadi Mujtahid dadakan dengan mentarjih permasalahan yang telah ditarjih oleh para imam mujtahidin3. Menyadarkan diri bahwa diri ini hanyalah muqallid bukan siapa-siapa, sehingga Amaliah kita diatas dalil dengan pemahaman para ulama mujtahidin.4. Menyelaraskan fiqih ibadah sehari-hari dengan masyarakat setempat pada perkara ijtihadiyyah sehingga masyarakat dapat menerima. Cukuplah casing yang dianggap aneh, jangan dianggap asing juga tata cara ibadah kita di mata masyarakat.5. Memudahkan sampainya dakwah Aqidah kepada masyarakat. Para ulama dahulu semisal Syaikhul Islam & MBAW rahimahumallah dll tidaklah berselisih dengan masyarakat sekitar pada permasalahan fiqih, karena fiqih mereka luwes dan melebur dengan masyarakat sekitar ketika itu. Penentangan yang ada ialah pada permasalahan inti dakwah yaitu permasalahan Aqidah. Bagaimana masyarakat mau memahami kesyirikan, kufurnya sekulerisme, liberalisme, dan sesatnya paham-paham yang menyimpang jika sudah terjadi perselisihan antara sang dai vs mad’u (masyarakat) tentang qunut Subuh, jahr/sirr basmalah, lafazh sayyidina dll ?6. Mengikuti arahan para ulama dakwah agar kita lebih sering menyampaikan nama-nama ulama yang dikenal masyarakat (misal ulama besar madzhab yang mereka anut) daripada nama ulama-ulama yang asing ditelinga mereka atau sudah mendapat stempel sebagai wahabi. Nasihat ini sering disampaikan oleh Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi di majelis Tafsir selepas ‘Ashar di Maktabah lantai dua rumah beliau (ketika masih di Makkah)7. Melatih diri menjadi sosok yang tidak mudah menghukumi sesat amaliah orang lain yang ternyata Amaliah mereka bersandar kepada dalil yang dipahami oleh para imam mujtahidin, seandainya mereka keliru sekalipun maka hal ini tidaklah membuat mereka tercela karena masuk kategori khilafiyah mu’tabar. Kecuali jika Amaliah mereka yang diselisihi tidak termasuk kedalam ranah khilafiyah yang mu’tabar.8. Mengikuti arahan para ulama semisal Ibnu Rajab rahimahullah agar kita beramal sesuai dengan dalil yang dipahami oleh para imam madzhab.Kita tidak merasa berat tatkala kita mendapati kaum muslimin bermadzhab atau tidak bermadzhab, namun kita akan terasa sakit dan sangat berat tatkala kaum muslimin tidak memahami hakikat kesyirikan, pembatal-pembatal keislaman, kufurnya sekulerisme dan Liberalisme yang sekarang sudah berseragam alirab Nusantara.Engkau yang masih menganggap masalah bermadzhab atau tidak bermadzhab prioritas dakwah dan pembahasan diskusi, musuh sudah masuk ke barisan kita. Musuh tidak lagi berada di seberang, namun sudah masuk ke barisan kita. Tuturan kaidah-kaidah dan segala macam teori hanya untuk membahas bermadzhab atau tidak bermadzhab bukanlah prioritas utama dan pertama….lihatlah kaum zindik dan kafirin asli terus bertubi-tubi mengancam kita.Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 2 Januari 2020Sumber : https://www.facebook.com/share/p/9zmyz3xpdQ76qTrZ/?mibextid=Nif5oz===Kalau boleh ditambahkan: 9. demikian juga yg dinasihatkan oleh ulama kita sekarang seperti syaikh Al Fauzan, jadi kita juga ngikut ulama kibar.10. selain itu dgn belajar madzhab ahlul bilad, kita bisa membedakan mana yg pendapat madzhab, mana yg produk nusantara dan menjelaskannya kepada ummatOleh : Ustadz Wira Bachrun وفقه اللهTanggal : 2 Januari 2020Sumber : https://www.facebook.com/share/p/yzh8qCsPY5bpYskp/?mibextid=Nif5oz