Liwa dan Rayah dalam Kajian Hadits dan Fiqih

بسم الله الرحمن الرحيم ===Liwa dan Rayah dalam Kajian Hadits dan FiqihOleh: Ahmad Abdurrahman al-Khaddami al-Jawi وفقه اللهHadits AsalImam at-Tirmidzi dalam as-Sunan atau al-Jâmi’ meriwayatkan hadits hasan gharib, dari Yazid ibn Hayyan dari Abu Mijlaz dari Abdullah ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ sebagai berikut:كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ“Rayah Rasulullah shallallâhu … Lanjutkan membaca Liwa dan Rayah dalam Kajian Hadits dan Fiqih

بسم الله الرحمن الرحيم ومما جاء في الحديث أن شروط استحقاق رسول الله نبي الله خليل الله أبو القاسم محمدﷺ للخلافة هي أن يكون من ذرية بني قريش وليس من ليس من ذرية بني قريش إطلاقانسأل الله الجبار أن يقيم فورا خلافة على منهج نبوة وأن تكون خليفته مسلم أهل السنة موحد مصلح صالح من ذرية بني قريش لا من ليس من ذرية بني قريش إطلاقا مثل بني سعود وبني عثمان غازي وجميع بني من لم يشملهم أحفاد بني قريشآمين

https://t.me/Manhaj_Muwahhid/4166 بسم الله الرحمن الرحيم ومما جاء في الحديث أن شروط استحقاق رسول الله نبي الله خليل الله أبو القاسم محمدﷺ للخلافة هي أن يكون من ذرية بني قريش وليس من ليس من ذرية بني قريش إطلاقانسأل الله الجبار أن يقيم فورا خلافة على منهج نبوة وأن تكون خليفته مسلم أهل السنة موحد مصلح صالح … Lanjutkan membaca بسم الله الرحمن الرحيم ومما جاء في الحديث أن شروط استحقاق رسول الله نبي الله خليل الله أبو القاسم محمدﷺ للخلافة هي أن يكون من ذرية بني قريش وليس من ليس من ذرية بني قريش إطلاقانسأل الله الجبار أن يقيم فورا خلافة على منهج نبوة وأن تكون خليفته مسلم أهل السنة موحد مصلح صالح من ذرية بني قريش لا من ليس من ذرية بني قريش إطلاقا مثل بني سعود وبني عثمان غازي وجميع بني من لم يشملهم أحفاد بني قريشآمين

بسم الله الرحمن الرحيم Semoga ALLAH menghacurkan kubur first ngaji kubur Semoga ALLAH menghacurkan pecundang pengecut penakut Semoga ALLAH memberikanku kebahagiaan dunia dan akhirat fi ‘afiyahSemoga ALLAH memasukkan ku ke Jannatul Firdaus Semoga ALLAH mengampuni semua dosa ku Semoga ALLAH menjaga kuSemoga ALLAH menolong kuSemoga ALLAH memberikan aku rizki yang baik Semoga ALLAH memberikan aku ilmu yang bermanfaatSemoga ALLAH menerima semua kebaikan ku آمين

بسم الله الرحمن الرحيم Semoga ALLAH menghacurkan kubur first ngaji kubur Semoga ALLAH menghacurkan pecundang pengecut penakut Semoga ALLAH memberikanku kebahagiaan dunia dan akhirat fi 'afiyahSemoga ALLAH memasukkan ku ke Jannatul Firdaus Semoga ALLAH mengampuni semua dosa ku Semoga ALLAH menjaga kuSemoga ALLAH menolong kuSemoga ALLAH memberikan aku rizki yang baik Semoga ALLAH memberikan aku … Lanjutkan membaca بسم الله الرحمن الرحيم Semoga ALLAH menghacurkan kubur first ngaji kubur Semoga ALLAH menghacurkan pecundang pengecut penakut Semoga ALLAH memberikanku kebahagiaan dunia dan akhirat fi ‘afiyahSemoga ALLAH memasukkan ku ke Jannatul Firdaus Semoga ALLAH mengampuni semua dosa ku Semoga ALLAH menjaga kuSemoga ALLAH menolong kuSemoga ALLAH memberikan aku rizki yang baik Semoga ALLAH memberikan aku ilmu yang bermanfaatSemoga ALLAH menerima semua kebaikan ku آمين

“Contoh keberhasilan gerakan sekuler di indonesia adalah mendirikan sekolah-sekolah universitas-universitas yang hanya menjadikan mata pelajaran agama bukanlah jam pelajaran inti..melainkan hanya untuk formalitas saja.. Bahkan mereka tidak menjadikan nilai di mata pelajaran tersebut penting. Sehingga mata pelajaran tersebut mungkin hanya satu jam dalam seminggu.. Dan sekolah-sekolah seperti ini tdk bisa lagi dihitung jumlah banyaknya.. Contoh lain gerakan sekuler lewat media adalah sedikitnya tayangan-tayangan islami yang diputar di televisi-televisi anda.. Ini salah satu gerakan pemisahan agama dari urusan duniawi.. Bisa anda hitung brpa kali tayangan islami ada di tv anda…”Dinukil dari : Ustadz Abu Musa Al-Mizzy وفقه اللهTanggal : 22 April 2018Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1763477793675383&id=100000395379891&mibextid=Nif5oz

"Contoh keberhasilan gerakan sekuler di indonesia adalah mendirikan sekolah-sekolah universitas-universitas yang hanya menjadikan mata pelajaran agama bukanlah jam pelajaran inti..melainkan hanya untuk formalitas saja.. Bahkan mereka tidak menjadikan nilai di mata pelajaran tersebut penting. Sehingga mata pelajaran tersebut mungkin hanya satu jam dalam seminggu.. Dan sekolah-sekolah seperti ini tdk bisa lagi dihitung jumlah banyaknya.. Contoh … Lanjutkan membaca “Contoh keberhasilan gerakan sekuler di indonesia adalah mendirikan sekolah-sekolah universitas-universitas yang hanya menjadikan mata pelajaran agama bukanlah jam pelajaran inti..melainkan hanya untuk formalitas saja.. Bahkan mereka tidak menjadikan nilai di mata pelajaran tersebut penting. Sehingga mata pelajaran tersebut mungkin hanya satu jam dalam seminggu.. Dan sekolah-sekolah seperti ini tdk bisa lagi dihitung jumlah banyaknya.. Contoh lain gerakan sekuler lewat media adalah sedikitnya tayangan-tayangan islami yang diputar di televisi-televisi anda.. Ini salah satu gerakan pemisahan agama dari urusan duniawi.. Bisa anda hitung brpa kali tayangan islami ada di tv anda…”Dinukil dari : Ustadz Abu Musa Al-Mizzy وفقه اللهTanggal : 22 April 2018Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1763477793675383&id=100000395379891&mibextid=Nif5oz

Surga Diliputi Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Diliputi Perkara Yang Disukai Nafsu oleh Umi Farikhah 27 Mei 2021 Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)Mengenal kosa kataHuffat: Berasal dari kata al-hafaf yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.Al-Jannah: Kampung kenikmatan.Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.Penjelasan ulama tentang hadits iniSaudariku, semoga Allah merahmatimu. Agar lebih memahami makna hadits diatas alangkah baiknya kita simak penuturan Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,“Para ulama mengatakan,’Hadits ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Sehingga beliau membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat. Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), menggunjing, bermain musik dan yang lainnya. Adapun syahwat (baca:keinginan) yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan bisa jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia.”(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah).Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,“Yang dimaksud dengan al-makarih (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke surga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Surga dan nereka dihijabi oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”(Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)Hiasai harimu dengan hadist ini !Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mengaplikasikan hadits ini dalam kehidupan sehari-hari, beliau berkata,“Kunasehatkan bagi diriku sendiri dan saudaraku sekalian. Jika engkau mendengar adzan telah dikumandangkan ‘hayya alash shalah hayya ‘alal falah’ namun jiwamu merasa benci melaksanakannya, mengulur-ulur waktu dan merasa malas. Ingatkan dirimu tentang hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci jiwa.Jika kewajiban membayar zakat telah tiba dan jiwamu merasa malas mengeluarkannya serta membagikannya kepada fakir miskin maka ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.Jika waktu puasa telah tiba sementara jiwamu merasa enggan menunaikannya, ingatkan dirimu degan hadits ini. Sungguh surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.Begitu juga ketika jiwamu merasa malas untuk berbakti kepada orang tua, enggan berbuat baik kepada keduanya dan merasa berat memenuhi hak-haknya, ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa”.Beliau hafidzahullah juga berkata, “Sebaliknya ketika jiwamu condong kepada perbuatan-perbuatan keji,zina dan perbuatan haram maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diiputi perkara-perkara yang disenangi syahwat. Ingatkan pula jika sekarang engkau lakukan perbuatan ini maka kelak engkau akan masuk neraka.Jika jiwamu tergoda dengan perbuatan riba, maka ingatkan dirimu bahwa Allah dan rasulNya telah mengharamkannnya dan pelakunya kelak akan masuk neraka.Begitu juga ketika jiwamu sedang ketagihan minum minuman keras dan minuman haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat.Ketika jiwamu merasa rindu mendengarkan musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian yang telah Allah haramkan atau ketika kedua matamu mulai condong melihat sesuatu yang Allah haramkan berupa vcd-vcd porno, gambar-gambar porno dan pemandangan haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwatJika engkau selalu menerapkan hadits ini dalam sendi-sendi kehidupanmu dan berusaha menghadirkannya setiap saat maka dengan ijin Allah engkau akan bisa menjauhi perbuatan haram dan memudahkanmu menjalankan ketaatan kepadaNya.”(Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah)Ingatlah, jiwa manusia itu condong pada kejelekanAllah Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)Ath-Thabari berkata tentang ayat ini, “Jiwa yang dimaksudkan adalah jiwa para hamba, ia senantiasa memerintahkan pada perkara-perkara yang disenangi nafsu. Sementara hawa nafsu itu jauh dari keridhaan Allah Ta’ala.”(Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Asy-Syamilah)Saudariku, perhatikanlah nasehat Ibnul Jauzi rahimahullah berikut,“Ketahuilah, semoga Allah mamberikan taufiq kepadamu. Sesungguhnya watak dasar jiwa manusia itu cinta kepada hawa nafsunya. Telah berlalu penjelasan tentang begitu dasyatnya bahaya hawa nafsu, sehingga untuk menghadapinya engkau membutuhkan kesungguhan dan pertentangan dalam diri jiwamu. Ketika engkau tidak mecegah keinginan hawa nafsumu maka pemikiran-pemikiran sesat (kejelekan-kejelekan) itu akan menyerang sehingga tercapailah keinginan hawa nafsumu.” (Dzammul Hawa, hal.36, Asy-Syamilah)Hadits penjelasDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwassalam bersabda,“Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga seraya berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!”Nabi shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang berita surga kecuali ingin memasukinya’.Kemudian Allah memerintahkan surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka Jibrilpun kembali ke surga dan ia temui bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu sungguh aku khawatir tidak ada seorangpun yang bisa memasukinya!’Lalu Allah memerintahkan,’Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penghuninya kelak!’ Maka ketika dineraka terdapat api yang menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk , Jibril kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu tidak ada seorangpun yang ingin memasukinya.’ Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan agar neraka dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibrilpun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu, aku khawatir tidak ada seorangpun dari hambaMu yang bisa selamat dari siksaan neraka.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih” . Begitupula Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan shahih.(Sunan At-Tirmidzi, Asy-Syamilah)Saudariku, akhirnya kami hanya bisa berdoa semoga kita semua dimasukkan Allah Ta’ala menjadi golongan penghuni surgaNya yang tertinggi dan dijauhkan dari segala jalan yang mengantarkan kita ke nerakaNya.“Ya Allah…aku memohon kepadamu surga dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung kepadamu dari siksaan neraka dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan.” (Musnad Imam Ahmad)Washallahu’ala nabiyyina Muhammadin wa’ala alihi washahbihi wasallamPenulis : Ummu Fatimah Umi FarikhahMurojaah : Ust. Aris Munandar Maraji‘ :Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi, Maktabah Asy-SyamilahFathul Baari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Maktabah Asy-SyamilahJami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, Maktabah Asy-SyamilahMuhadharah Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, www.radiorodja.comSunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Imam At-Tirmidzi, Maktabah Asy-SyamilahSyarhun Nawawi ‘Ala Muslim, Imam Nawawi, Maktabah Asy-Syamilah***Sumber: https://muslimah.or.id/888-surga-diliputi-perkara-yang-dibenci-jiwa-neraka-diliputi-perkara-yang-disukai-nafsu.html.

Surga Diliputi Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Diliputi Perkara Yang Disukai Nafsu oleh Umi Farikhah 27 Mei 2021 Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)Mengenal kosa kataHuffat: Berasal dari kata al-hafaf yang berarti sesuatu yang meliputi … Lanjutkan membaca Surga Diliputi Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Diliputi Perkara Yang Disukai Nafsu oleh Umi Farikhah 27 Mei 2021 Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)Mengenal kosa kataHuffat: Berasal dari kata al-hafaf yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.Al-Jannah: Kampung kenikmatan.Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.Penjelasan ulama tentang hadits iniSaudariku, semoga Allah merahmatimu. Agar lebih memahami makna hadits diatas alangkah baiknya kita simak penuturan Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,“Para ulama mengatakan,’Hadits ini mengandung kalimat-kalimat yang indah dengan cakupan makna yang luas serta kefasihan bahasa yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Sehingga beliau membuat perumpamaan yang sangat baik dan tepat. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat. Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), menggunjing, bermain musik dan yang lainnya. Adapun syahwat (baca:keinginan) yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan bisa jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia.”(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah).Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari berkata,“Yang dimaksud dengan al-makarih (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke surga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Surga dan nereka dihijabi oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”(Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah)Hiasai harimu dengan hadist ini !Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mengaplikasikan hadits ini dalam kehidupan sehari-hari, beliau berkata,“Kunasehatkan bagi diriku sendiri dan saudaraku sekalian. Jika engkau mendengar adzan telah dikumandangkan ‘hayya alash shalah hayya ‘alal falah’ namun jiwamu merasa benci melaksanakannya, mengulur-ulur waktu dan merasa malas. Ingatkan dirimu tentang hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci jiwa.Jika kewajiban membayar zakat telah tiba dan jiwamu merasa malas mengeluarkannya serta membagikannya kepada fakir miskin maka ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.Jika waktu puasa telah tiba sementara jiwamu merasa enggan menunaikannya, ingatkan dirimu degan hadits ini. Sungguh surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa.Begitu juga ketika jiwamu merasa malas untuk berbakti kepada orang tua, enggan berbuat baik kepada keduanya dan merasa berat memenuhi hak-haknya, ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa”.Beliau hafidzahullah juga berkata, “Sebaliknya ketika jiwamu condong kepada perbuatan-perbuatan keji,zina dan perbuatan haram maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diiputi perkara-perkara yang disenangi syahwat. Ingatkan pula jika sekarang engkau lakukan perbuatan ini maka kelak engkau akan masuk neraka.Jika jiwamu tergoda dengan perbuatan riba, maka ingatkan dirimu bahwa Allah dan rasulNya telah mengharamkannnya dan pelakunya kelak akan masuk neraka.Begitu juga ketika jiwamu sedang ketagihan minum minuman keras dan minuman haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat.Ketika jiwamu merasa rindu mendengarkan musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian yang telah Allah haramkan atau ketika kedua matamu mulai condong melihat sesuatu yang Allah haramkan berupa vcd-vcd porno, gambar-gambar porno dan pemandangan haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwatJika engkau selalu menerapkan hadits ini dalam sendi-sendi kehidupanmu dan berusaha menghadirkannya setiap saat maka dengan ijin Allah engkau akan bisa menjauhi perbuatan haram dan memudahkanmu menjalankan ketaatan kepadaNya.”(Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah)Ingatlah, jiwa manusia itu condong pada kejelekanAllah Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)Ath-Thabari berkata tentang ayat ini, “Jiwa yang dimaksudkan adalah jiwa para hamba, ia senantiasa memerintahkan pada perkara-perkara yang disenangi nafsu. Sementara hawa nafsu itu jauh dari keridhaan Allah Ta’ala.”(Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Asy-Syamilah)Saudariku, perhatikanlah nasehat Ibnul Jauzi rahimahullah berikut,“Ketahuilah, semoga Allah mamberikan taufiq kepadamu. Sesungguhnya watak dasar jiwa manusia itu cinta kepada hawa nafsunya. Telah berlalu penjelasan tentang begitu dasyatnya bahaya hawa nafsu, sehingga untuk menghadapinya engkau membutuhkan kesungguhan dan pertentangan dalam diri jiwamu. Ketika engkau tidak mecegah keinginan hawa nafsumu maka pemikiran-pemikiran sesat (kejelekan-kejelekan) itu akan menyerang sehingga tercapailah keinginan hawa nafsumu.” (Dzammul Hawa, hal.36, Asy-Syamilah)Hadits penjelasDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwassalam bersabda,“Ketika surga dan neraka diciptakan, Allah Ta’ala mengutus Jibril ‘alaihissalam pergi ke surga seraya berfirman, ‘Lihatlah ia dan perhatikanlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduknya kelak!”Nabi shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Jibril pun mendatangi, melihat dan memperhatikan segala nikmat yang Allah sediakan bagi penduduk surga. Kemudian Jibril kembali kepada Allah seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang berita surga kecuali ingin memasukinya’.Kemudian Allah memerintahkan surga sehingga ia diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa). Lalu Allah Ta’ala memerintahkan Jibril, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah segala sesuatu yang Aku sediakan bagi penduduk surga!’ Maka Jibrilpun kembali ke surga dan ia temui bahwasanya surga telah diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia. Kemudian Jibril menadatangi Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Demi kemuliaanMu sungguh aku khawatir tidak ada seorangpun yang bisa memasukinya!’Lalu Allah memerintahkan,’Pergilah ke neraka, lihatlah dan perhatikanlah siksaan yang Aku sediakan bagi penghuninya kelak!’ Maka ketika dineraka terdapat api yang menyala-nyala dan bertumpuk-tumpuk , Jibril kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu tidak ada seorangpun yang ingin memasukinya.’ Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan agar neraka dipenuhi dengan perkara-perkara yang disukai syahwat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kembalilah padanya!’ Jibrilpun kembali ke neraka dan berkata, ‘Demi kemuliaanMu, aku khawatir tidak ada seorangpun dari hambaMu yang bisa selamat dari siksaan neraka.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih” . Begitupula Syaikh Al-Albani menilai hadits ini hasan shahih.(Sunan At-Tirmidzi, Asy-Syamilah)Saudariku, akhirnya kami hanya bisa berdoa semoga kita semua dimasukkan Allah Ta’ala menjadi golongan penghuni surgaNya yang tertinggi dan dijauhkan dari segala jalan yang mengantarkan kita ke nerakaNya.“Ya Allah…aku memohon kepadamu surga dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung kepadamu dari siksaan neraka dan segala sesuatu yang bisa mendekatkanku dengannya baik berupa perkataan ataupun perbuatan.” (Musnad Imam Ahmad)Washallahu’ala nabiyyina Muhammadin wa’ala alihi washahbihi wasallamPenulis : Ummu Fatimah Umi FarikhahMurojaah : Ust. Aris Munandar Maraji‘ :Dzammul Hawa, Ibnul Jauzi, Maktabah Asy-SyamilahFathul Baari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Maktabah Asy-SyamilahJami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, Maktabah Asy-SyamilahMuhadharah Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, www.radiorodja.comSunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Imam At-Tirmidzi, Maktabah Asy-SyamilahSyarhun Nawawi ‘Ala Muslim, Imam Nawawi, Maktabah Asy-Syamilah***Sumber: https://muslimah.or.id/888-surga-diliputi-perkara-yang-dibenci-jiwa-neraka-diliputi-perkara-yang-disukai-nafsu.html.

بسم الله الرحمن الرحيم ===hukum thoghut permenag (peraturan mentri agama) nomer 29 tahun 2019 tentang Majelis TaklimPoint ini termasuk buruk tidak baik===Hukum selain hukum Allah yang diterapkan ternyata berkesesuaian dengan hukum Allah ? (Misal hukum mati bagi pembunuh), maka mereka tetap dianggap bermaksiat apakah hukum yang mereka terapkan sesuai dengan syari’at atau tidak. Karena jika sesuai sekalipun ini hanya faktor kebetulan, bukan dilandasi ingin menetapkan hukum syar’i. hal ini disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 12 hal. 13) maupun Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim (Mufti Saudi sebelum era Asy-syaikh Bin Baz sekaligus guru beliau) dalam Majmu’ Al-Fatawa beliau (jilid 12 hal. 262), dikutip dari Subulussalam syarh Nawaqidh al-Islam hal 127 (catatan kaki)Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin فقه اللهTanggal : 25 Mei 2019 Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=692309641223017&id=100013319622062&mibextid=Nif5ozMau sesuai atau tidak, tetap bermaksiat karena tidak didasari ingin menegakkan hukum AllahOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 25 Mei 2019Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=692309641223017&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===حكم الدعوة للتجمع تحت راية الإنسانية • الشيخ العلامة عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله السؤال:يُنادي كثيرٌ من أعداء الإسلام بالتَّجمع تحت راية الإنسانية وإن اختلفت الديانة والعقيدة، وللأسف نسمع بين فترةٍ وأخرى بين أبناء الإسلام مَن يُنادي بذلك؛ تقليدًا لأعداء الإسلام أو جهلًا، فما قولكم في ذلك؟الجواب:الدعوة إلى التَّجمع على الإنسانية أو القومية أو العلمانية أو الوطنية كلها دعوات جاهلية، كلها من شعار الجاهلية، يجب تركها، والبراءة منها، وإنما الدعوة لكتاب الله وسنة رسوله عليه الصلاة والسلام، وإلى ما سار عليه سلفُ الأمة، وهم أصحاب النبي ﷺ وأتباعهم بإحسانٍ، يجب الدعوة إلى هذا، ويجب على أهل الإسلام الدَّعوة إلى هذا، وأن ينصحوا الناسَ بالتمسك بكتاب الله وسنة رسوله ﷺ، والعمل بذلك، والسير على منهج السلف الصالح من أصحاب النبي ﷺ وأتباعهم بإحسانٍ، وذلك بطاعة الله ورسوله، وترك ما نهى الله عنه ورسوله، قال الله : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران:31].فطريق النَّجاة هو اتِّباع النبي عليه الصلاة والسلام، قال سبحانه: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [الأنعام:153]، فصراط الله هو الإسلام، وهو دين الله، وهو الذي عليه أهل السنة والجماعة، هو صراط الله، ودين الله، فالواجب اتِّباعه، والحذر مما يُخالفه، كما قال جلَّ وعلا: فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ، والسبل هي الطرق الخارجة عن ذلك: من البدع، والأهواء، والشَّهوات المحرَّمة، يجب الحذر منها، وأن يستقيم المؤمن -وهكذا المؤمنة- على صراط الله المستقيم، وهو دين الله، وهو الإسلام، وهو طاعة الله ورسوله، وهو السير على منهج الله ورسوله الذي دلَّ عليه كتابُ الله وسنةُ رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، ودرج عليه أصحابُ النبي ﷺ وأتباعهم بإحسانٍ.Hukum men dakwah kan bersatu di bawah panji kemanusiaan/humanisme • Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه اللهPertanyaan:Banyak musuh Islam yang menyerukan berkumpul di bawah panji kemanusiaan, meskipun agama dan Aqidah berbeda, dan sayangnya kita sering mendengar di antara anak-anak Islam ada yang menyerukan hal ini; Karena meniru musuh-musuh Islam atau karena ketidaktahuan, apa perkataan Anda tentang hal itu?Jawab:Dakwah untuk bersatu diatas kemanusiaan/humanisme, atau nasionalisme atau sekularisme atau patriotisme adalah semua dakwah jahiliyah, yang semuanya adalah syiar jahiliyah, yang wajib ditinggalkan dan ber baro’ah dari mereka, tetapi dakwah untuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, dan untuk apa yang diikuti oleh salaful ummah, dan mereka adalah sahabat Nabi ﷺ Dan mengikuti mereka dalam kebaikan, ini wajib di dakwah kan, dan Ahlul Islam wajib men dakwah kan ini, dan menasihati orang-orang untuk mematuhi Kitabullah dan Sunnah Rasul-NYA ﷺ dan amalkanlah, dan ikuti jalan Salafush Sholih dari para sahabat Nabi ﷺ Dan ikutilah mereka dengan kebaikan, dengan menaati Allah dan Rasul-NYA, dan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-NYA , berkata ALLAH AZZA WA JALLA : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران:31].Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang [Aali Imron:31].Maka jalan menuju keselamatan adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ , berkata ALLAH SUBAHAANAHU WA TA’ALA : وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [الأنعام:153]Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. [Al-An’am:153]Maka Jalan ALLAH adalah Islam, dan itu adalah Dinullah, dan dianut oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Itu adalah jalan ALLAH, dan Dinullah, jadi wajib untuk mengikutinya, dan Waspadalah terhadap apa yang bertentangan dengannya, sebagaimana firman Yang Maha Kuasa: فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَMaka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain)dan jalan itu adalah jalan yang menyimpang darinya: dari kesesatan, Hawa nafsu dan syahwat yang harom wajib diwaspadai, dan mukmin – dan demikian pula mukminah , wajib berpegang pada jalan ALLAH yang lurus , yaitu Dinullah, yaitu Islam, yaitu ketaatan kepada ALLAH dan Rasul-NYA, Yaitu mengikuti jalan ALLAH dan Rasul-Nya, yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan dijalan para Sahabat Nabi ﷺ Dan ikutilah mereka dengan kebaikanمصدر :https://binbaz.org.sa/fatwas/20918/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D9%88%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%AA%D8%AC%D9%85%D8%B9-%D8%AA%D8%AD%D8%AA-%D8%B1%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%B3%D8%A7%D9%86%D9%8A%D8%A9.===NAQD AL QAUMIYYAH Al-Imam Bin Baz rahimahullah berujar :Diantara aspek-aspek yang menunjukkan batal atau sia-sianya seruan nasionalisme Arab ialah : Sesungguhnya seruan kepada nasionalisme Arab dan persatuan disekitar bendera nasionalisme Arab akan menghantarkan masyarakat harus menolak Al-Qur’an. Karena kaum nasionalis yang bukan kaum muslimin, tidak akan pernah ridha berhukum dengan Al-Qur’an. Hal ini mengharuskan para pembesar nasionalisme tersebut membuat hukum-hukum buatan manusia yang menyelisihi hukum Al-Qur’an. Agar masyarakat setara dalam hukum-hukum tersebut. Banyak dari kalangan mereka (kaum nasionalis) telah menyatakan hal tersebut dengan gamblang (dalam penentuan hukum selain Al-Qur’an). Maka ini jelas kerusakan yang besar, kekufuran yang jelas dan kemurtaddan yang nyata.-Subulus salam hal. 109-Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه الله Tanggal : 17 Mei 2019Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=686814121772569&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===Para ulama ahlus Sunnah semisal Asy-Syaikh Bin Baz di Subulussalam dll menyatakan bahwa nasionalisme adalah kekufuran, kaum nasionalis adalah murtaddun. Maka paradoks ketika pendaku sunnah membuat kajian “Nasionalisme ahlus Sunnah”, bagaimana ceritanya kekufuran nasionalisme disandingkan dengan ahlus Sunnah dan bagaimana mungkin kekufuran dinisbatkan kepada ahlus Sunnah ?! Riyadh bin Badr Bajrey yang membawakan kajian ini, ini dimaklumi karena memang maklumat aqidahnya Riyadh bin Badr Bajrey berantakan (semisal : mengatakan alfatihah sebagai emaknya surat lainnya, serampangan memerintahkan menumpahkan darah kaum muslimin dll) Tetiba ada seorang ustadz yang membela dan mengatakan bahwa nasionalisme itu cinta tanah air, jadi bukan kekufuran katanya. Sebagaimana Riyadh bin Badr Bajrey mengatakan kepada saya bahwa yang dimaksud qaumiyyah (nasionalisme) adalah rasisme, jadi yang dikatakan kekafiran oleh para ulama tentang qaumiyyah adalah rasisme, bukan nasionalisme. Ajib benar orang ini, seluruh asaatidzah, seluruh buku terjemahan yang membicarakan qaumiyyah, seluruh kamus menerjemahkan qaumiyyah adalah nasionalisme, bukan rasisme ! Terlebih lagi temannya si Riyadh bin Badr Bajrey ini yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah (sekedar) cinta tanah air. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya mengenai hal ini, penanya berkata : نسمع في هذه العصر دعوة العلمانية و هي فصل الدين عن الدولة، فهل أصحاب هؤلاء مرتدون ؟ “Di zaman ini kita mendengar seruan kaum sekurelis yang menginginkan adanya jarak pemisah antara agama dan negara, apakah pengadopsi paham ini murtad ?”Beliau menjawab : لا شك أن أصحاب المذاهب المعاصرة الإلحادية مرتدون مثل العلمانية و الحداثية و القومية و الشيوعية لأنها مخالفة للإسلام “Tidak diragukan lagi bahwa para pengadopsi sekte-sekte kontemporer tersebut adalah kaum murtad semisal sekurelisme, modernisme, nasionalisme, komunisme karena semua itu bertentangan dengan Islam.” (Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam hal. 25)Mengapa nasionalisme dikatakan sebagai kekufuran akbar ? Karena kaum nasionalis akan membangun al-wala’wal bara’ sema sekali tidak diatas agama, semua diatas nasionalisme hatta dalam masalah menumpahkan darah sekalipun, padahal para ulama menyatakan bahwa orang yang berperang dan mati karena hanya membela negara, maka ia mati Jahiliyah, sangit tidak syahid. Oleh karena itu kaum nasionalis tidak akan ragu mencampakkan agama apabila agama berbenturan dengan nasionalisme. Tidakkah kita sadar bahwa tes wawasan kebangsaan kemarin adalah bagian dari nasionalisme : pilih Al-Qur’an atau Pancasila ? Maka sungguh pengaburan yang sangat jahat apabila nasionalisme hanya dikatakan sebagai cinta tanah air belaka, kita memang boleh mencintai negeri kita, namun nasionalisme menuntut seseorang harus menjadikan kepentingan nasionalnya diatas segalanya, hatta agama sekalipun. Inilah titik poin kekufuran mereka. Belakangan saya menjadi “maklum” akan pembelaan ustadz tersebut terhadap Riyadh bin Badr Bajrey dan kajian nasionalisme-nya, karena ternyata ia adalah PNS, abdi negara dan gegayaan merekomendasikan seseorang dan mencabut rekomendasi. Padahal seharusnya PNS sekalipun wajib mengingkari Nasionalisme, bukan malah membenarkan. Apa mungkin sang ustadz tersebut membenarkan sumpah jabatannya ? Berikut sumpah ASN yang menuntut sang ASN menjadi nasionalis :Bahwa saya, untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara, dan pemerintah;Bahwa saya, akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat pegawai negeri sipil, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan;—— Kepada kaum muslimin, jangan mau tertipu oleh da’i-dai su’ yang mengajak kita bernasionalisوفقني الله وإياكم لما يحب ويرضىDinukil dari : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه اللهTanggal : 5 Juni 2021Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1248779635576012&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===Gak pernah bersatu pada qalbu seorang salafy, antara tauhid & nasionalisme. Gak usah ikutan soekarno dahOleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه اللهTanggal : 8 Februari 2021Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1416565035464137&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz====Nasionalisme adalah paham kekufuranOleh karena itu Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Al-Fauzan dan lainnya mengatakan bahwa kaum nasionalis ialah murtaddun. Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan mati berperang di jalan nasionalisme ialah mati Jahiliyah.Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه اللهTanggal : 8 Februari 2020Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1171320129988630&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===Dikumandangkan azan bukan ukuran sebuah negeri dikatakan negeri Islam saat ini.Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh رحمه الله mengatakan: Negeri kufur adalah negeri yang kekufuran disana tampak dan dominan.Syaikh Shalih Alu Syaikh وفقه الله menjelaskan: Jadi, apabila kekufuran tampak disatu negeri dan dominan maka negeri ini disebut negeri syirik. Hukum ini ditinjau dari apa yang terjadi yaitu kesyirikan. Adapun ditinjau dari penduduknya, persoalan ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya tentang negeri yang tampak disana hukum-hukum kufur dan hukum-hukum Islam. Beliau mengatakan; Negeri ini tidak dinilai sebagai negeri kufur dan negeri Islam. Sebagian ulama berkata; Apabila disatu negeri tampak dikumandangkan azan di waktu-waktu shalat maka negeri ini negeri Islam. Pendapat ini tidak lepas dari kritikan karena sesuai hadits, apabila orang Arab mengumandangkan azan ini artinya mereka telah mengakui kebenaran syahadat karena mereka memahami maknanya. Dan berarti mereka telah meninggalkan kesyirikan dan berlepas diri darinya. Adapun di zaman belakangan ini, banyak orang muslim mengucapkan Laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah tapi tidak memahami maknanya dan tidak mengamalkan kandungannya. Berdasarkan ini maka definisi ini, yakni menilai sebuah negeri bahwa ia negeri Islam dengan dikumandangkannya azan disana tidak tepat. Yang benar adalah pendapat pertama. Adapun hukum penduduknya tergantung kepada perbuatannya sendiri-sendiri.Syarah Tsalatsatul Ushul, Syaikh Shalih Alu Syaikh.Dinukil dari : Ustadz Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 19 Maret 2022Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1631407190557935&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz===“Pendidikan yang tidak dibangun di atas 𝘁𝗮𝘂𝗵𝗶̄𝗱, 𝗸𝘂𝗳𝘂𝗿 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗵𝗮̄𝗴𝗵𝘂̄𝘁, 𝗷𝗶𝗵𝗮̄𝗱 𝗱𝗶 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮̄𝗵, 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗰𝗶 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮̄𝗵 akan berujung pada kegagalan dan para pemuda akan tumbuh sebagai pembela thaghut serta kacung para pengkhianat.”(Syaikh al-Muhaddits Sulaimān al-‘Ulwān وفقه الله)Dinukil dari akun facebook bernama : Alfisal Tanggal : 8 Oktober 2023Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=279989851579049&id=100087041071225&mibextid=Nif5oz===بسم الله الرحمن الرحيم Janganlah kalian muslimin hanya mempedulikan berbagai masalah muslimin yang ada di Baitul maqdis sajaPedulilah juga sekaligus berbagai masalah yang ada di negara kafir Indonesia,semua wilayah Syam selain Baitul Maqdis,Amerika,Inggris Britania,Andalus,Australia,Khurosan,Korea,Jepang,China,Italia,Perancis,Jerman,Bosnia,Herzegovina,Chechnya,Meksio,Kolumbia,Canada, Myanmar, dan lain-lain semoga ALLAH AL-JABBAR memenangkan muslimin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi ‘afiyah dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan murji’ah dan khowarij dan nasionalisme dan demokrasi dan sekulerisme dan liberalisme dan pluralisme dan yahudi dan nashoro dan shinto dan buddha dan asy’ariyyah dan maturidiyyah dan sufiyyah dan syi’ah rafidhoh dan mufawwidah dan brahmanisme dan komunisme sosialisme dan kapitalisme dan madrosah jahiliyah dan semua keburukanآمينDon’t you all Muslimin only care about the various problems of Muslimin in Baitul Maqdis,Also pay attention to the various problems that exist in the kafir country Indonesia, all region of Syam apart from Baitul Maqdis, America,Britain, Andalus, Australia, Khurosan, Korea, Japan, China, Italy, France, Germany, Bosnia, Herzegovina, Chechnya, Mexico, Colombia, Canada, Myanmar, etcالله المستعان الله أعلم===Ottoman dan Euforia KhilafahKhilafah Ottoman tepatnya disebut “daulah” bukan khilafah dari banyak sisi. Hadits “A’immah (khalifah) min Quraisy” adalah syarat dari nabi bagi seorang khalifah. Karena itu Kerajaan Mamaluk mesir yang menampung khalifah terakhir Abbasiyah tidak lancang memakai istilah khilafah sampai datang sultan Salim I dari Ottoman yang merampasnya dari Mesir, menurut salah satu sumber. Belum lagi jika ditinjau dari akidah tarekat Bektasiyah yang dianut mereka dan tindakannya ditahun 1800-an yang memerangi tauhid dan menistakan banyak muslimah. Jangan terlalu berlebihan menyanjungnya agar ummat tahu hakikat sebenarnya ottoman ini. Kuatir jadi bumerang ke depan. Wallahua’lamDinukil dari : Ustadz Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 21 Agustus 2020Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1231115147253810&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz===بسم الله الرحمن الرحيم Hadits “A’immah (Kholifah) min Quraisy” Adalah syarat dari Rosulullah Nabiullah Kholilullah Abul Qosim Muhammad Al-Amin ﷺ bagi seorang Kholifah Semoga ALLAH AL-JABBAR segara menegakkan khilafah ala minhajin nubuwah dengan kholifah nya adalah Muslim Ahlus Sunnah Muwahhid Mushlih Sholih yang termasuk keturunan Bani Qurayish bukan dari yang sama sekali bukan termasuk keturunan Bani Qurayish semisal bani saudi,bani utsman ghazi,dan semua Bani yang bukan termasuk keturunan Bani Qurayish آمين===بسم الله الرحمن الرحيم نسأل الله الجبار أن ينصر المسلمين أهل السنة والجماعة في عافية من الأمم المتحدة والمرجئة والخوارج والقومية والديمقراطية والعلمانية والليبرالية والوحدة الدينية واليهودية والنصرانية والشنتوية والبوذية والأشعرية والماتريدية والصوفية والشيعة روافضة والمفوضة والبراهمية والشيوعية اشتراكية والرأسمالية والمدرسة جاهلية وكل شر semoga ALLAH AL-JABBAR memenangkan muslimin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi ‘afiyah dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan murji’ah dan khowarij dan nasionalisme dan demokrasi dan sekulerisme dan liberalisme dan pluralisme dan yahudi dan nashoro dan shinto dan buddha dan asy’ariyyah dan maturidiyyah dan sufiyyah dan syi’ah rafidhoh dan mufawwidah dan brahmanisme dan komunisme sosialisme dan kapitalisme dan madrosah jahiliyah dan semua keburukanMay ALLAH AL-JABBAR win Muslimin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi ‘afiyah from UN (United Nations) and murji’ah and khowarij and nationalism and democracy and secularism and liberalism and pluralism and yahud (Judaism) and nashoro (christian and the like) and shinto and buddhism and ash’ariyyah and maturidiyyah and sufiyyah and shi’ah rafidhoh and mufawwidah and brahmanism and communism socialism and capitalism and madrosah jahiliyah and all badآمين

بسم الله الرحمن الرحيم ===hukum thoghut permenag (peraturan mentri agama) nomer 29 tahun 2019 tentang Majelis TaklimPoint ini termasuk buruk tidak baik===Hukum selain hukum Allah yang diterapkan ternyata berkesesuaian dengan hukum Allah ? (Misal hukum mati bagi pembunuh), maka mereka tetap dianggap bermaksiat apakah hukum yang mereka terapkan sesuai dengan syari'at atau tidak. Karena jika … Lanjutkan membaca بسم الله الرحمن الرحيم ===hukum thoghut permenag (peraturan mentri agama) nomer 29 tahun 2019 tentang Majelis TaklimPoint ini termasuk buruk tidak baik===Hukum selain hukum Allah yang diterapkan ternyata berkesesuaian dengan hukum Allah ? (Misal hukum mati bagi pembunuh), maka mereka tetap dianggap bermaksiat apakah hukum yang mereka terapkan sesuai dengan syari’at atau tidak. Karena jika sesuai sekalipun ini hanya faktor kebetulan, bukan dilandasi ingin menetapkan hukum syar’i. hal ini disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 12 hal. 13) maupun Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim (Mufti Saudi sebelum era Asy-syaikh Bin Baz sekaligus guru beliau) dalam Majmu’ Al-Fatawa beliau (jilid 12 hal. 262), dikutip dari Subulussalam syarh Nawaqidh al-Islam hal 127 (catatan kaki)Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin فقه اللهTanggal : 25 Mei 2019 Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=692309641223017&id=100013319622062&mibextid=Nif5ozMau sesuai atau tidak, tetap bermaksiat karena tidak didasari ingin menegakkan hukum AllahOleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه اللهTanggal : 25 Mei 2019Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=692309641223017&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===حكم الدعوة للتجمع تحت راية الإنسانية • الشيخ العلامة عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله السؤال:يُنادي كثيرٌ من أعداء الإسلام بالتَّجمع تحت راية الإنسانية وإن اختلفت الديانة والعقيدة، وللأسف نسمع بين فترةٍ وأخرى بين أبناء الإسلام مَن يُنادي بذلك؛ تقليدًا لأعداء الإسلام أو جهلًا، فما قولكم في ذلك؟الجواب:الدعوة إلى التَّجمع على الإنسانية أو القومية أو العلمانية أو الوطنية كلها دعوات جاهلية، كلها من شعار الجاهلية، يجب تركها، والبراءة منها، وإنما الدعوة لكتاب الله وسنة رسوله عليه الصلاة والسلام، وإلى ما سار عليه سلفُ الأمة، وهم أصحاب النبي ﷺ وأتباعهم بإحسانٍ، يجب الدعوة إلى هذا، ويجب على أهل الإسلام الدَّعوة إلى هذا، وأن ينصحوا الناسَ بالتمسك بكتاب الله وسنة رسوله ﷺ، والعمل بذلك، والسير على منهج السلف الصالح من أصحاب النبي ﷺ وأتباعهم بإحسانٍ، وذلك بطاعة الله ورسوله، وترك ما نهى الله عنه ورسوله، قال الله : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران:31].فطريق النَّجاة هو اتِّباع النبي عليه الصلاة والسلام، قال سبحانه: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [الأنعام:153]، فصراط الله هو الإسلام، وهو دين الله، وهو الذي عليه أهل السنة والجماعة، هو صراط الله، ودين الله، فالواجب اتِّباعه، والحذر مما يُخالفه، كما قال جلَّ وعلا: فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ، والسبل هي الطرق الخارجة عن ذلك: من البدع، والأهواء، والشَّهوات المحرَّمة، يجب الحذر منها، وأن يستقيم المؤمن -وهكذا المؤمنة- على صراط الله المستقيم، وهو دين الله، وهو الإسلام، وهو طاعة الله ورسوله، وهو السير على منهج الله ورسوله الذي دلَّ عليه كتابُ الله وسنةُ رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، ودرج عليه أصحابُ النبي ﷺ وأتباعهم بإحسانٍ.Hukum men dakwah kan bersatu di bawah panji kemanusiaan/humanisme • Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه اللهPertanyaan:Banyak musuh Islam yang menyerukan berkumpul di bawah panji kemanusiaan, meskipun agama dan Aqidah berbeda, dan sayangnya kita sering mendengar di antara anak-anak Islam ada yang menyerukan hal ini; Karena meniru musuh-musuh Islam atau karena ketidaktahuan, apa perkataan Anda tentang hal itu?Jawab:Dakwah untuk bersatu diatas kemanusiaan/humanisme, atau nasionalisme atau sekularisme atau patriotisme adalah semua dakwah jahiliyah, yang semuanya adalah syiar jahiliyah, yang wajib ditinggalkan dan ber baro’ah dari mereka, tetapi dakwah untuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, dan untuk apa yang diikuti oleh salaful ummah, dan mereka adalah sahabat Nabi ﷺ Dan mengikuti mereka dalam kebaikan, ini wajib di dakwah kan, dan Ahlul Islam wajib men dakwah kan ini, dan menasihati orang-orang untuk mematuhi Kitabullah dan Sunnah Rasul-NYA ﷺ dan amalkanlah, dan ikuti jalan Salafush Sholih dari para sahabat Nabi ﷺ Dan ikutilah mereka dengan kebaikan, dengan menaati Allah dan Rasul-NYA, dan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-NYA , berkata ALLAH AZZA WA JALLA : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران:31].Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang [Aali Imron:31].Maka jalan menuju keselamatan adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ , berkata ALLAH SUBAHAANAHU WA TA’ALA : وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [الأنعام:153]Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. [Al-An’am:153]Maka Jalan ALLAH adalah Islam, dan itu adalah Dinullah, dan dianut oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Itu adalah jalan ALLAH, dan Dinullah, jadi wajib untuk mengikutinya, dan Waspadalah terhadap apa yang bertentangan dengannya, sebagaimana firman Yang Maha Kuasa: فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَMaka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain)dan jalan itu adalah jalan yang menyimpang darinya: dari kesesatan, Hawa nafsu dan syahwat yang harom wajib diwaspadai, dan mukmin – dan demikian pula mukminah , wajib berpegang pada jalan ALLAH yang lurus , yaitu Dinullah, yaitu Islam, yaitu ketaatan kepada ALLAH dan Rasul-NYA, Yaitu mengikuti jalan ALLAH dan Rasul-Nya, yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan dijalan para Sahabat Nabi ﷺ Dan ikutilah mereka dengan kebaikanمصدر :https://binbaz.org.sa/fatwas/20918/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%B9%D9%88%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%AA%D8%AC%D9%85%D8%B9-%D8%AA%D8%AD%D8%AA-%D8%B1%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%B3%D8%A7%D9%86%D9%8A%D8%A9.===NAQD AL QAUMIYYAH Al-Imam Bin Baz rahimahullah berujar :Diantara aspek-aspek yang menunjukkan batal atau sia-sianya seruan nasionalisme Arab ialah : Sesungguhnya seruan kepada nasionalisme Arab dan persatuan disekitar bendera nasionalisme Arab akan menghantarkan masyarakat harus menolak Al-Qur’an. Karena kaum nasionalis yang bukan kaum muslimin, tidak akan pernah ridha berhukum dengan Al-Qur’an. Hal ini mengharuskan para pembesar nasionalisme tersebut membuat hukum-hukum buatan manusia yang menyelisihi hukum Al-Qur’an. Agar masyarakat setara dalam hukum-hukum tersebut. Banyak dari kalangan mereka (kaum nasionalis) telah menyatakan hal tersebut dengan gamblang (dalam penentuan hukum selain Al-Qur’an). Maka ini jelas kerusakan yang besar, kekufuran yang jelas dan kemurtaddan yang nyata.-Subulus salam hal. 109-Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه الله Tanggal : 17 Mei 2019Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=686814121772569&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===Para ulama ahlus Sunnah semisal Asy-Syaikh Bin Baz di Subulussalam dll menyatakan bahwa nasionalisme adalah kekufuran, kaum nasionalis adalah murtaddun. Maka paradoks ketika pendaku sunnah membuat kajian “Nasionalisme ahlus Sunnah”, bagaimana ceritanya kekufuran nasionalisme disandingkan dengan ahlus Sunnah dan bagaimana mungkin kekufuran dinisbatkan kepada ahlus Sunnah ?! Riyadh bin Badr Bajrey yang membawakan kajian ini, ini dimaklumi karena memang maklumat aqidahnya Riyadh bin Badr Bajrey berantakan (semisal : mengatakan alfatihah sebagai emaknya surat lainnya, serampangan memerintahkan menumpahkan darah kaum muslimin dll) Tetiba ada seorang ustadz yang membela dan mengatakan bahwa nasionalisme itu cinta tanah air, jadi bukan kekufuran katanya. Sebagaimana Riyadh bin Badr Bajrey mengatakan kepada saya bahwa yang dimaksud qaumiyyah (nasionalisme) adalah rasisme, jadi yang dikatakan kekafiran oleh para ulama tentang qaumiyyah adalah rasisme, bukan nasionalisme. Ajib benar orang ini, seluruh asaatidzah, seluruh buku terjemahan yang membicarakan qaumiyyah, seluruh kamus menerjemahkan qaumiyyah adalah nasionalisme, bukan rasisme ! Terlebih lagi temannya si Riyadh bin Badr Bajrey ini yang mengatakan bahwa nasionalisme adalah (sekedar) cinta tanah air. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya mengenai hal ini, penanya berkata : نسمع في هذه العصر دعوة العلمانية و هي فصل الدين عن الدولة، فهل أصحاب هؤلاء مرتدون ؟ “Di zaman ini kita mendengar seruan kaum sekurelis yang menginginkan adanya jarak pemisah antara agama dan negara, apakah pengadopsi paham ini murtad ?”Beliau menjawab : لا شك أن أصحاب المذاهب المعاصرة الإلحادية مرتدون مثل العلمانية و الحداثية و القومية و الشيوعية لأنها مخالفة للإسلام “Tidak diragukan lagi bahwa para pengadopsi sekte-sekte kontemporer tersebut adalah kaum murtad semisal sekurelisme, modernisme, nasionalisme, komunisme karena semua itu bertentangan dengan Islam.” (Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam hal. 25)Mengapa nasionalisme dikatakan sebagai kekufuran akbar ? Karena kaum nasionalis akan membangun al-wala’wal bara’ sema sekali tidak diatas agama, semua diatas nasionalisme hatta dalam masalah menumpahkan darah sekalipun, padahal para ulama menyatakan bahwa orang yang berperang dan mati karena hanya membela negara, maka ia mati Jahiliyah, sangit tidak syahid. Oleh karena itu kaum nasionalis tidak akan ragu mencampakkan agama apabila agama berbenturan dengan nasionalisme. Tidakkah kita sadar bahwa tes wawasan kebangsaan kemarin adalah bagian dari nasionalisme : pilih Al-Qur’an atau Pancasila ? Maka sungguh pengaburan yang sangat jahat apabila nasionalisme hanya dikatakan sebagai cinta tanah air belaka, kita memang boleh mencintai negeri kita, namun nasionalisme menuntut seseorang harus menjadikan kepentingan nasionalnya diatas segalanya, hatta agama sekalipun. Inilah titik poin kekufuran mereka. Belakangan saya menjadi “maklum” akan pembelaan ustadz tersebut terhadap Riyadh bin Badr Bajrey dan kajian nasionalisme-nya, karena ternyata ia adalah PNS, abdi negara dan gegayaan merekomendasikan seseorang dan mencabut rekomendasi. Padahal seharusnya PNS sekalipun wajib mengingkari Nasionalisme, bukan malah membenarkan. Apa mungkin sang ustadz tersebut membenarkan sumpah jabatannya ? Berikut sumpah ASN yang menuntut sang ASN menjadi nasionalis :Bahwa saya, untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara, dan pemerintah;Bahwa saya, akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat pegawai negeri sipil, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan;—— Kepada kaum muslimin, jangan mau tertipu oleh da’i-dai su’ yang mengajak kita bernasionalisوفقني الله وإياكم لما يحب ويرضىDinukil dari : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه اللهTanggal : 5 Juni 2021Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1248779635576012&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===Gak pernah bersatu pada qalbu seorang salafy, antara tauhid & nasionalisme. Gak usah ikutan soekarno dahOleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه اللهTanggal : 8 Februari 2021Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1416565035464137&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz====Nasionalisme adalah paham kekufuranOleh karena itu Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Al-Fauzan dan lainnya mengatakan bahwa kaum nasionalis ialah murtaddun. Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan mati berperang di jalan nasionalisme ialah mati Jahiliyah.Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه اللهTanggal : 8 Februari 2020Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1171320129988630&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz===Dikumandangkan azan bukan ukuran sebuah negeri dikatakan negeri Islam saat ini.Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh رحمه الله mengatakan: Negeri kufur adalah negeri yang kekufuran disana tampak dan dominan.Syaikh Shalih Alu Syaikh وفقه الله menjelaskan: Jadi, apabila kekufuran tampak disatu negeri dan dominan maka negeri ini disebut negeri syirik. Hukum ini ditinjau dari apa yang terjadi yaitu kesyirikan. Adapun ditinjau dari penduduknya, persoalan ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya tentang negeri yang tampak disana hukum-hukum kufur dan hukum-hukum Islam. Beliau mengatakan; Negeri ini tidak dinilai sebagai negeri kufur dan negeri Islam. Sebagian ulama berkata; Apabila disatu negeri tampak dikumandangkan azan di waktu-waktu shalat maka negeri ini negeri Islam. Pendapat ini tidak lepas dari kritikan karena sesuai hadits, apabila orang Arab mengumandangkan azan ini artinya mereka telah mengakui kebenaran syahadat karena mereka memahami maknanya. Dan berarti mereka telah meninggalkan kesyirikan dan berlepas diri darinya. Adapun di zaman belakangan ini, banyak orang muslim mengucapkan Laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah tapi tidak memahami maknanya dan tidak mengamalkan kandungannya. Berdasarkan ini maka definisi ini, yakni menilai sebuah negeri bahwa ia negeri Islam dengan dikumandangkannya azan disana tidak tepat. Yang benar adalah pendapat pertama. Adapun hukum penduduknya tergantung kepada perbuatannya sendiri-sendiri.Syarah Tsalatsatul Ushul, Syaikh Shalih Alu Syaikh.Dinukil dari : Ustadz Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 19 Maret 2022Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1631407190557935&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz===“Pendidikan yang tidak dibangun di atas 𝘁𝗮𝘂𝗵𝗶̄𝗱, 𝗸𝘂𝗳𝘂𝗿 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘁𝗵𝗮̄𝗴𝗵𝘂̄𝘁, 𝗷𝗶𝗵𝗮̄𝗱 𝗱𝗶 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮̄𝗵, 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗰𝗶 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮̄𝗵 akan berujung pada kegagalan dan para pemuda akan tumbuh sebagai pembela thaghut serta kacung para pengkhianat.”(Syaikh al-Muhaddits Sulaimān al-‘Ulwān وفقه الله)Dinukil dari akun facebook bernama : Alfisal Tanggal : 8 Oktober 2023Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=279989851579049&id=100087041071225&mibextid=Nif5oz===بسم الله الرحمن الرحيم Janganlah kalian muslimin hanya mempedulikan berbagai masalah muslimin yang ada di Baitul maqdis sajaPedulilah juga sekaligus berbagai masalah yang ada di negara kafir Indonesia,semua wilayah Syam selain Baitul Maqdis,Amerika,Inggris Britania,Andalus,Australia,Khurosan,Korea,Jepang,China,Italia,Perancis,Jerman,Bosnia,Herzegovina,Chechnya,Meksio,Kolumbia,Canada, Myanmar, dan lain-lain semoga ALLAH AL-JABBAR memenangkan muslimin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi ‘afiyah dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan murji’ah dan khowarij dan nasionalisme dan demokrasi dan sekulerisme dan liberalisme dan pluralisme dan yahudi dan nashoro dan shinto dan buddha dan asy’ariyyah dan maturidiyyah dan sufiyyah dan syi’ah rafidhoh dan mufawwidah dan brahmanisme dan komunisme sosialisme dan kapitalisme dan madrosah jahiliyah dan semua keburukanآمينDon’t you all Muslimin only care about the various problems of Muslimin in Baitul Maqdis,Also pay attention to the various problems that exist in the kafir country Indonesia, all region of Syam apart from Baitul Maqdis, America,Britain, Andalus, Australia, Khurosan, Korea, Japan, China, Italy, France, Germany, Bosnia, Herzegovina, Chechnya, Mexico, Colombia, Canada, Myanmar, etcالله المستعان الله أعلم===Ottoman dan Euforia KhilafahKhilafah Ottoman tepatnya disebut “daulah” bukan khilafah dari banyak sisi. Hadits “A’immah (khalifah) min Quraisy” adalah syarat dari nabi bagi seorang khalifah. Karena itu Kerajaan Mamaluk mesir yang menampung khalifah terakhir Abbasiyah tidak lancang memakai istilah khilafah sampai datang sultan Salim I dari Ottoman yang merampasnya dari Mesir, menurut salah satu sumber. Belum lagi jika ditinjau dari akidah tarekat Bektasiyah yang dianut mereka dan tindakannya ditahun 1800-an yang memerangi tauhid dan menistakan banyak muslimah. Jangan terlalu berlebihan menyanjungnya agar ummat tahu hakikat sebenarnya ottoman ini. Kuatir jadi bumerang ke depan. Wallahua’lamDinukil dari : Ustadz Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 21 Agustus 2020Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1231115147253810&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz===بسم الله الرحمن الرحيم Hadits “A’immah (Kholifah) min Quraisy” Adalah syarat dari Rosulullah Nabiullah Kholilullah Abul Qosim Muhammad Al-Amin ﷺ bagi seorang Kholifah Semoga ALLAH AL-JABBAR segara menegakkan khilafah ala minhajin nubuwah dengan kholifah nya adalah Muslim Ahlus Sunnah Muwahhid Mushlih Sholih yang termasuk keturunan Bani Qurayish bukan dari yang sama sekali bukan termasuk keturunan Bani Qurayish semisal bani saudi,bani utsman ghazi,dan semua Bani yang bukan termasuk keturunan Bani Qurayish آمين===بسم الله الرحمن الرحيم نسأل الله الجبار أن ينصر المسلمين أهل السنة والجماعة في عافية من الأمم المتحدة والمرجئة والخوارج والقومية والديمقراطية والعلمانية والليبرالية والوحدة الدينية واليهودية والنصرانية والشنتوية والبوذية والأشعرية والماتريدية والصوفية والشيعة روافضة والمفوضة والبراهمية والشيوعية اشتراكية والرأسمالية والمدرسة جاهلية وكل شر semoga ALLAH AL-JABBAR memenangkan muslimin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi ‘afiyah dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan murji’ah dan khowarij dan nasionalisme dan demokrasi dan sekulerisme dan liberalisme dan pluralisme dan yahudi dan nashoro dan shinto dan buddha dan asy’ariyyah dan maturidiyyah dan sufiyyah dan syi’ah rafidhoh dan mufawwidah dan brahmanisme dan komunisme sosialisme dan kapitalisme dan madrosah jahiliyah dan semua keburukanMay ALLAH AL-JABBAR win Muslimin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi ‘afiyah from UN (United Nations) and murji’ah and khowarij and nationalism and democracy and secularism and liberalism and pluralism and yahud (Judaism) and nashoro (christian and the like) and shinto and buddhism and ash’ariyyah and maturidiyyah and sufiyyah and shi’ah rafidhoh and mufawwidah and brahmanism and communism socialism and capitalism and madrosah jahiliyah and all badآمين

بسم الله الرحمن الرحيم Demi ALLAH Demi ALLAH sekali lagi Demi ALLAH saya pernah ber tanya di postingan facebook nya Andika Putra ini di bagian komentar postingan walaupun sudah terhapus secara makna tentang benar kah bahwa dukun dari Al-Jazair yakni Abil Abbas Ahmad bin Ali Al-Bunni ini adalah kafir musyrik najis thoghut bukan muslim muwahhid walaupun ber aqidah sufi-asyairoh dan ber madzhab Maliki Dan jawabannya Andika Putra adalah “benar”Maka dukun dari Al-Jazair yakni Abil Abbas Ahmad bin Ali Al-Bunni yang ber aqidah sufi-asyairoh dan ber madzhab Maliki adalah kafir musyrik najis thoghut bukan muslim muwahhidالحمد للهالحمد لله على كل حالالله المستعانوالله أعلم===Produk manhaj asyairoh.Oleh : Andika Putra وفقه اللهTanggal : 20 Maret 2023Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02q6xg9iGTGZ9jYFhjXF453Tu2wpCm956WrfmjYDqoUwXer8wtVBzH5Fmuzz7cHntxl&id=100001443791367&mibextid=Nif5oz===Ini adalah penampakan salah satu lembar halaman pada isi dari kitab “Manba’ Ushulil Hikmah” yang merupakan kitab sihir yang telah masyhur di dunia perdukunan karena telah dijadikan rujukan oleh para dukun di seluruh dunia.Sebagaimana yang kita lihat tampak simbol-simbol rajah yang mana Itu adalah wifik-wifik alias huruf-huruf yang merupakan “kode etik” untuk mengaktifkan sihir dalam kitab tersebut yang akan difungsikan untuk santet maupun pelet dll.Kitab ini ditulis oleh Abil Abbas Ahmad bin ‘Ali Al-Bunni, salah seorang dukun asal Aljazair yang ber-Aqidah Sufi-Asyaa’iroh bermadzhab Maliki yang mengaku sebagai ahli hikmah. Sehingga yang paling saya khawatirkan adalah jika nantinya ada yang melegalkan perdukunan dengan mengatasnamakan pendapat Madzhab dengan berdalih bahwa itu adalah ilmu hikmah, wal Iyaadzu billãhi…Oleh : Mukhlis Abdur-Rahman وفقه اللهTanggal : 19 Maret 2023Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02hH5oDRb6xztGjJGudMHLm9ymtCBMrQ866zqrLVSqxYDLDvv5N8SRgUAxxfc2hPe2l&id=100002293997644&mibextid=Nif5oz

بسم الله الرحمن الرحيم Demi ALLAH Demi ALLAH sekali lagi Demi ALLAH saya pernah ber tanya di postingan facebook nya Andika Putra ini di bagian komentar postingan walaupun sudah terhapus secara makna tentang benar kah bahwa dukun dari Al-Jazair yakni Abil Abbas Ahmad bin Ali Al-Bunni ini adalah kafir musyrik najis thoghut bukan muslim muwahhid … Lanjutkan membaca بسم الله الرحمن الرحيم Demi ALLAH Demi ALLAH sekali lagi Demi ALLAH saya pernah ber tanya di postingan facebook nya Andika Putra ini di bagian komentar postingan walaupun sudah terhapus secara makna tentang benar kah bahwa dukun dari Al-Jazair yakni Abil Abbas Ahmad bin Ali Al-Bunni ini adalah kafir musyrik najis thoghut bukan muslim muwahhid walaupun ber aqidah sufi-asyairoh dan ber madzhab Maliki Dan jawabannya Andika Putra adalah “benar”Maka dukun dari Al-Jazair yakni Abil Abbas Ahmad bin Ali Al-Bunni yang ber aqidah sufi-asyairoh dan ber madzhab Maliki adalah kafir musyrik najis thoghut bukan muslim muwahhidالحمد للهالحمد لله على كل حالالله المستعانوالله أعلم===Produk manhaj asyairoh.Oleh : Andika Putra وفقه اللهTanggal : 20 Maret 2023Sumber :https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02q6xg9iGTGZ9jYFhjXF453Tu2wpCm956WrfmjYDqoUwXer8wtVBzH5Fmuzz7cHntxl&id=100001443791367&mibextid=Nif5oz===Ini adalah penampakan salah satu lembar halaman pada isi dari kitab “Manba’ Ushulil Hikmah” yang merupakan kitab sihir yang telah masyhur di dunia perdukunan karena telah dijadikan rujukan oleh para dukun di seluruh dunia.Sebagaimana yang kita lihat tampak simbol-simbol rajah yang mana Itu adalah wifik-wifik alias huruf-huruf yang merupakan “kode etik” untuk mengaktifkan sihir dalam kitab tersebut yang akan difungsikan untuk santet maupun pelet dll.Kitab ini ditulis oleh Abil Abbas Ahmad bin ‘Ali Al-Bunni, salah seorang dukun asal Aljazair yang ber-Aqidah Sufi-Asyaa’iroh bermadzhab Maliki yang mengaku sebagai ahli hikmah. Sehingga yang paling saya khawatirkan adalah jika nantinya ada yang melegalkan perdukunan dengan mengatasnamakan pendapat Madzhab dengan berdalih bahwa itu adalah ilmu hikmah, wal Iyaadzu billãhi…Oleh : Mukhlis Abdur-Rahman وفقه اللهTanggal : 19 Maret 2023Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02hH5oDRb6xztGjJGudMHLm9ymtCBMrQ866zqrLVSqxYDLDvv5N8SRgUAxxfc2hPe2l&id=100002293997644&mibextid=Nif5oz

SUJUDNYA MUADZ, MENURUT SYAIKH IBN BAZHadits ini jika shahih, maka ada sesuatu. Akan tetapi Muadz, jika hadits ini shahih, ia menyangka bahwa perbuatan ini, jika dibolehkan kepada pembesar-pembesar musyrikin disana, maka nabi lebih pantas. Dia memiliki syubhat diawal Islam. Akan tetapi agama telah baku, dan telah diketahui bahwa sujud adalah milik Allah. Apabila hal ini tersamarkan bagi Muadz di awal Islam, tapi setelahnya bukan samar lagi bagi siapa pun. Hal 126-127Dari kitab Syarah Kasyf Syubuhat oleh Asy-Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Rahimahullah. Cetakan Maktabah Al Hadyu Al Muhammadiy – Mesirhttps://tauhidfirst.net/16-soal-jawab-bersama-asy-syaikh-ibnu-baz-seputar-udzur-bil-jahl/16 Dinukil dari : Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 31 Januari 2024Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2083086942056622&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz===Soal-jawab bersama Asy-Syaikh Ibnu Baz Seputar Udzur bil JahlDecember 12, 2014Soal-jawab bersama Asy-Syaikh Ibnu Baz Seputar Udzur bil Jahlإجابات الشيخ ابن باز حول مسألة العذر بالجهل في شرحه لكتاب كشف الشبهات السلام عليكم ورحمة الله وبركاته س : الإختلاف في مسائل العذر بالجهل هل من المسائل الخلافية ؟ج : مسألة عظيمة ، والأصل فيها أنه لا يعذر من كان بين المسلمين من بلغه القرآن والسنة ، ما يعذر. الله جل وعلا قال :” وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ “، من بلغه القرآن والسنة غير معذور ، إنما أوتي من تساهله وعدم مبالاته.Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhTanya: Ikhtilaf dalam perkara-perkara udzur bil jahl, apakah termasuk perkara khilafiyah?Jawab: (Ini) perkara besar. Pada asalnya dalam perkara ini, tidak ada udzur (bagi) orang yang (tinggal) ditengah-tengah muslimin. Barangsiapa yang sampai kepadanya Al Qur’an dan As-Sunnah tidak diudzur. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman; ((Dan telah diwahyukan kepadaku Al Qur’an ini agar aku beri peringatan kepadamu dan orang-orang yang sampai kepadanya (Al Qur’an ini)). (Syubhat ini) hanya datang dari tasahul nya(sikap bergampang-gampangan) dan ketidakpeduliannya.س : لكن هل يقال هذه مسألة خلافيةج : ليست خلافية إلا في الدقائق التي قد تخفى مثل قصة الذي قال لأهله حرقوني . صـ 26 – 271- Tanya: Akan tetapi apa (boleh) dibilang ini perkara khilafiyah?Jawab: Bukan khilafiyah kecuali pada pendetilan-pendetilan yang mungkin tersamarkan, seperti kisah orang yang berkata kepada keluarganya, bakarlah saya. (Hal 26-27)س : كثير من المنتسبين للسلفية يشترطون في إقامة الحجة أن يكون من العلماء فإذا وقع العامي على كلام كفر يقول ما نكفره ؟ج : إقامة الدليل كل على حسب حاله.2- Tanya: Mayoritas orang yang mengaku salafy mensyaratkan dalam penegakan hujjah harus dari ulama. Maka jika orang awam mendapati ucapan kufur, ia bilang; kami tidak mengkafirkannya? (maksudnya: orang awam tidak boleh mengkafirkan, tapi harus ulama –pentj)Jawab: Penegakan dalil masing-masing sesuai kapasitasnya.س: هل يجب على العامي أن يكفر من قام كفره أو قام فيه الكفرج: إذا ثبت عليه ما يوجب الكفر كفره ما المانع ؟!إذا ثبت عنده ما يوجب الكفر كفره مثل ما نكفر أبا جهل وأبا طالب وعتبة بن ربيعة وشيبة بن ربيعة ، والدليل على كفرهم أن الرسول صلى الله عليه وسلم قاتلهم يوم بدر.3- Tanya: Apakah wajib atas awam mengkafirkan orang yang kekafirannya jelas, atau jelas padanya kekafiran?Jawab: Apabila jelas padanya petunjuk yang menjadikannya kafir, ia mengkafirkannya, apa yang menghalanginya (dari ini)?! Apabila jelas baginya (awam) apa yang mengharuskan kafirnya (orang tersebut), ia mengkafirkan orang itu. Seperti kita mengkafirkan Abu Jahl dan Abu Thalib dan Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Dan dalil akan kafirnya mereka adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi mereka diperang Badr. س: يا شيخ العامي يمنع من التكفير ؟ج : العامي لا يكفِّر إلا بالدليل ، العامي ما عنده علم هذا المشكل ، لكن الذي عنده علم بشيء معين مثل من جحد تحريم الزنا هذا يكفر عند العامة والخاصة ، هذا ما فيه شبهة ، ولو قال واحد : إن الزنا حلال ، كفر عند الجميع هذا ما يحتاج أدلة ، أو قال : إن الشرك جائز يجيز للناس أن يعبدوا غير الله هل أحد يشك في هذا ؟! هذا ما يحتاج أدلة ، لو قال : إن الشرك جائز يجوز للناس أن يعبدوا الأصنام والنجوم والجن كفر.التوقف يكون في الأشياء المشكلة التي قد تخفى على العامي .صـ 34 4- Tanya: Wahai Syaikh, orang awam dilarang dari takfir?Jawab: Orang awam tidak boleh mengkafirkan kecuali dengan dalil. Orang awam tidak punya ilmu yang musykil ini. Tapi barangsiapa yang punya ilmu tentang suatu perkara, seperti orang yang mengingkari haramnya zina, orang ini kafir disisi awam atau orang berilmu. Perkara ini tidak ada syubhat. Jika ada orang bilang: Sesungguhnya zina halal. Orang ini kafir disisi semua orang, ini tidak butuh dalil-dalil. Atau orang yang mengatakan: Sesungguhnya syirik boleh. Orang ini membolehkan manusia beribadah kepada selain Allah. Apa ada orang yang ragu tentang (orang) ini?! Perkara ini tidak butuh dalil-dalil. Jika ada orang mengatakan: Sesungguhnya syirik boleh. Dia membolehkan bagi orang-orang untuk beribadah kepada berhala, bintang dan jin, orang ini kafir. Abstain hanya dalam perkara-perkara yang musykil, yang terkadang samar bagi orang awam. (Hal 34)س : ما يعرف أن الذبح عبادة والنذر عبادةج : يعلَّم ، الذي لا يعرف يعلَّم ، والجاهل يعلَّم.س : هل يحكم عليه بالشرك ؟ج : يحكم عليه بالشرك ، ويعلَّم أما سمعت الله يقول :”أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلاقال جل وعلا :” ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون “.ما وراء هذا تنديدا لهم ،نسأل الله العافية .صـ 42 5- Tanya: Dia tidak tahu bahwa menyembelih adalah ibadah, nadzar adalah ibadah!!Jawab: Diajari, yang tidak tahu diajari. Orang jahil diajari.6- Tanya: Apakah orangnya dihukumi musyrik?Jawab: Orangnya dihukumi musyrik dan diajari. Bukankah kamu mendengar firman Allah ((Apa kalian kira kebanyakan mereka mendengar atau berakal? Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya)). Allah Ta’aala berfirman: ((Dan telah kami persiapkan untuk jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi mereka tidak memahami dengannya. Dan mereka memiliki mata tapi mereka tidak melihat dengannya. Dan mereka memiliki telinga tapi mereka tidak mendengar dengannya. Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai)) (ucapan tidak dipahami). Kami minta kepada Allah keselamatan. Hal 42.س : من نشأ ببادية أو بيئة جاهلية ؟ج : يعلَّم أن هذا شرك أكبر حتى يتوب ، يقال له هذا شرك أكبر عليك بالتوبة إلى الله.مثل ما كان المشركون يطوفون بالقبور ونصبوا عند الكعبة ثلاثمائة صنم وأرشدهم النبي صلى الله عليه وسلم فالذي أجاب وهداه الله فالحمد لله والذي ما أجاب مشرك هذا وأغلبهم جهال ، خرجوا إلى بدر جهال ، وإلى أحد جهال ،تابعوا رؤساءهم.قال الله جل وعلا :” أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا“ مع هذا حكم عليهم بالكفر .صـ 55 – 567- Tanya: Orang yang tinggal di pedalaman atau lingkungan jahiliyah?Jawab: Diberitahu bahwa ini syirik besar sampai ia bertaubat. Dikatakan kepadanya ini syirik besar, wajib bagimu bertaubat kepada Allah. Contohkan (padanya) apa yang dahulu dilakukan musyrikin bahwa mereka thawaf dikubur, memasang disekitar Ka’bah 300 berhala, lalu Nabi menunjuki mereka. Orang yang menyambut, Allah beri dia hidayah Alhamdulillah. Dan orang yang tidak mau menyambut, musyrik. Inilah dan mayoritas mereka jahil. Mereka menuju perang Badr sebagai orang-orang jahil, menuju perang Uhud sebagai orang-orang jahil, mengikuti pemimpin-pemimpin mereka. Allah berfirman; ((Apa kalian kira kebanyakan mereka mendengar atau berakal? Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya)). Kendati begitu Nabi hukumi mereka sebagai orang kafir. Hal 55-56س : يذكر العلماء في أهل البادية أن الأعرابي قد يعذر فما هي المسائل التي قد يعذر فيها صاحب البادية ؟ وهل هذا خاص بزمن النبي صلى الله عليه وسلم عند بداية الإسلام ؟.ج : يعذر الأعرابي وغير الأعرابي بالشيء الذي يمكن جهله مثل بعض أركان الصلاة ، بعض أركان الزكاة ، بعض المفطرات. أما إذا جحد الصلاة رأسا وقال :لا أصلي ، أو جحد الصيام رأسا وقال لا أصوم رمضان ، ما يعذر لأن هذا الشيء معلوم من الدين بالضرورة كل مسلم يعرف هذا أو جحد شروط الحج أو أن عرفة من واجبات الحج ومن أعمال الحج لأنه قد يخفى عليه ، لكن يقر بالحج أنه فرض مثل هذه قد تخفى على العامي.8- Tanya: Ulama menyebutkan berkenaan dengan penduduk pedalaman, bahwa arab badui mungkin diudzur. Apa perkara yang mungkin diberi udzur untuk penduduk pedalaman? Dan apakah ini khusus di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat awal Islam?Jawab: Orang arab badui diberi udzur dan juga selain mereka, yaitu dalam perkara yang seseorang mungkin saja jahil seperti sebagian rukun shalat, sebagian rukun zakat, sebagian pembatal puasa.Adapun apabila mengingkari wajibnya shalat dan mengatakan: saya tidak shalat, atau mengingkari wajibnya puasa dan mengatakan; saya tidak puasa Ramadhan, ia tidak diberi udzur. Karena perkara ini darurat diketahui bagian dari agama. Semua muslim tahu ini. Atau (kalau) mengingkari syarat-syarat haji, atau bahwa (wukuf di) Arafah termasuk rukun-rukun haji dan manasik haji, perkara ini mungkin tersamarkan, tapi ia mengakui bahwa haji wajib. Perkara yang tadi mungkin tersamarkan bagi orang awam. س : يذكر يا شيخ – أحسن الله إليك – عن بعضهم أنه ما يعرف الجنابة ، وأنه ما يغتسل منها؟ج : يعلَّم ، العامي قد لا يفهم خصوصا بعض النساء ، يعلَّم ولا يكفر.9- Tanya: Semoga Allah berbuat baik kepadamu wahai Syaikh, disebutkan dari sebagian mereka bahwa seseorang tidak mengetahui junub, dan ia tidak mandi dari junub?Jawab: Orang ini diberitahu. Orang awam mungkin tidak tahu (ini), terlebih para wanita. Diajari dan tidak dikafirkan. س : من وصلته كتب منحرفة ليست فيها عقيدة ولا توحيد هل يعذر بالجهل ؟ج : إذا كان بين المسلمين ما يعذر بالشرك أما الذي قد يخفى مثل بعض واجبات الحج أو واجبات العمرة أو واجبات الصيام أو الزكاة بعض أحكام البيع ، وبعض أمور الربا ، قد يعذر وتلتبس عليه الأمور.لكن أصل الدين كونه يقول أن الحج غير مشروع أو الصيام غير واجب أو الزكاة غير واجبة ، هذا لا يخفى على المسلمين ، هذا شيء معلوم من الدين بالضرورة.10- Tanya: Barangsiapa yang sampai kepadanya kitab-kitab sesat, tidak terdapat padanya akidah maupun tauhid, apakah orang ini diberi udzur karena jahil?Jawab: Apabila ia berada diantara muslimin, ia tidak diberi udzur jikalau itu kesyirikan. Adapun perkara yang mungkin tersamarkan seperti sebagian kewajiban-kewajiban haji, atau kewajiban-kewajiban umrah, atau kewajiban-kewajiban puasa, atau zakat, sebagian hukum jual-beli dan sebagian perkara riba, seseorang mungkin diberi udzur, dan perkaranya tersamarkan olehnya. Akan tetapi pokok agama, seperti dia katakan: haji tidak disyariatkan, atau puasa tidak wajib, atau zakat tidak wajib. Perkara ini tidak samar bagi muslimin. Ini perkara yang darurat diketahui dari agama. س : لو قال لا بد أن تتوفر شروط فيمن أًريد تكفيره بعينه وتنتفي الموانع ؟ج : مثل هذه الأمور الظاهرة ما يحتاج فيها شيء ، يكفر بمجرد وجودها ، لأن وجودها لا يخفى على المسلمين ، معلوم بالضرورة من الدين بخلاف الذي قد يخفى مثل شرط من شروط الصلاة ، بعض الأموال التي تجب فيها الزكاة ، تجب أو لا تجب ، بعض شؤون الحج ، بعض شؤون الصيام ، بعض شؤون المعاملات ، بعض مسائل الربا . صـ 99 – 100.11- Tanya: Kalau seseorang mengatakan, harus terpenuhi syarat-syarat pada orang yang ingin kamu kafirkan secara personal dan tidak terdapat penghalang-penghalang?Jawab: Seperti perkara jelas ini, tidak perlu apa pun. (Seseorang) dikafirkan dengan sekedar adanya kekafiran. Karena keberadaannya tidak tersamarkan bagi muslimin, darurat diketahui dari agama. Berbeda dengan perkara yang mungkin tersamarkan, seperti syarat dari syarat-syarat shalat, sebagian harta yang wajib dizakati, apakah wajib atau tidak, sebagian urusan haji, sebagian perkara puasa, sebagian perkara mu’amalah, sebagian perkara-perkara riba. Hal 99-100.س : بعض الناس يقول : المعين لا يكفرج : هذا من الجهل ، إذا أتى بمكفر يكفر .صـ 117س : يا شيخ جملة من العاصرين ذكروا أن الكافر من قال الكفر أو عمل بالكفر فلا يكفر حتى تقام عليه الحجة ، ودرجوا عباد القبور في هذا ؟ج : هذا من جهلهم عباد القبور كفار ، واليهود كفار والنصارى كفار ولكن عند القتل يستتابون ، فإن تابوا وإلا قتلوا12- Tanya: Sebagian orang mengatakan: person tidak dikafirkan.Jawab: Ini termasuk kejahilan. Apabila seseorang melakukan kekafiran, person menjadi kafir. Hal 11713- Tanya: Wahai Syaikh, segolongan orang sekarang menyebutkan bahwa orang kafir adalah orang yang mengucapkan kekufuran, atau mengerjakan kekufuran. Maka ia tidak dikafirkan sampai ditegakkan padanya hujjah. Dan memasukkan para penyembah kubur dalam masalah ini?Jawab: Ini diantara kejahilan mereka. Para penyembah kubur kafir. Yahudi dan Kristen kafir. Tapi berkenaan dengan hukum bunuh, para penyembah kubur diminta taubat (dulu), jika ia taubat (dilepas) jika tidak mereka dibunuh. س : يا شيخ مسألة قيام الحجة ؟ج : بلغهم القرآن ،هذا بلاغ للناس ، القرآن بلغهم وبين المسلمين “وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ“” هذا بلاغ للناس ” ، ” يا أيها الرسول بلغ “قد بلغ الرسول ، وجاء القرآن وهم بين أيدينا يسمعونه في الإذاعات ويسمعون في غيرها ، ولا يبالون ولا يلتفتون ، وإذا جاء أحد ينذرهم ينهاهم آذوه ، نسأل الله العافية14- Tanya: Wahai Syaikh, perkara penegakan hujjah?Jawab: Barangsiapa sampai kepadanya Al Qur’an, (((al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia)). Al Qur’an sampai kepada mereka dan berada ditengah-tengah muslimin. ((Dan diwahyukan kepadaku Al Qur’an ini agar aku beri peringatan kepada kalian dengannya dan orang-orang yang sampai kepadanya (Al Qur’an)), (((al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia)). ((Wahai Rasul, sampaikanlah!)). Dan Rasul telah menyampaikan, dan Al Qur’an datang dan mereka ada ditengah-tengah kita, mendengarnya melalui siaran-siaran, dan mendengarnya melalui sarana lainnya. Tapi mereka tidak peduli dan tidak memperhatikannya. Dan apabila ada seseorang yang memperingatkan mereka, melarang mereka, orang-orang itu malah menyakitinya. Kita minta kepada Allah keselamatan. س : حديث الرجل الذي قال إذا مت حرقوني ؟ج : هذا جهل بعض السنن من الأمور الخفية من كمال القدرة ، جهلها فعذر حمله على ذلك خوف الله ، وجهل تمام القدرة فقال لأهله ما قال.15- Tanya: Hadits orang yang berkata, jika aku mati bakarlah aku?Jawab: Ini jahil akan sebagian sunnah, termasuk perkara yang samar, (jahil) dari kesempurnaan takdir. Orang ini jahil tentangnya, maka diudzur. Yang menjadikannya seperti itu karena takut kepada Allah. (Ia) jahil akan kesempurnaan takdir, sehingga ia berkata kepada keluarganya seperti itu.س: سجود معاذ للنبي صلى الله عليه وسلم ؟ج : هذا إن صح في صحته نظر ، لكن معاذ لو صح ظن أن هذا إذا جاز لكبار قادة المشركين هناك فالنبي أفضل ، هذا له شبهة في أول الإسلام ، لكن استقر الدين وعرف أن السجود لله ،وإذا كان هذا أشكل على معاذ في أول الأمر لكن بعده ما يشكل على أحد . صـ 126 – 127من كتاب شرح كشف الشبهات للشيخ العلامة عبد العزيز ابن باز – رحمه الله – طبعة مكتبة الهدي المحمدي – مصر16- Tanya: Sujudnya Mu’adz kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?Jawab: Hadits ini jika shahih, maka ada sesuatu. Akan tetapi Muadz, jika hadits ini shahih, ia menyangka bahwa perbuatan ini, jika dibolehkan kepada pembesar-pembesar musyrikin disana, maka nabi lebih pantas. Dia memiliki syubhat diawal Islam. Akan tetapi agama telah baku, dan telah diketahui bahwa sujud adalah milik Allah. Apabila hal ini tersamarkan bagi Muadz diawal Islam, tapi setelahnya bukan samar lagi bagi siapa pun. Hal 126-127Dari kitab Syarah Kasyf Syubuhat oleh Asy-Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Rahimahullah. Cetakan Maktabah Al Hadyu Al Muhammadiy – Mesir. http://majles.alukah.net/t20453/Dinukil dari : https://tauhidfirst.net/16-soal-jawab-bersama-asy-syaikh-ibnu-baz-seputar-udzur-bil-jahl/.

SUJUDNYA MUADZ, MENURUT SYAIKH IBN BAZHadits ini jika shahih, maka ada sesuatu. Akan tetapi Muadz, jika hadits ini shahih, ia menyangka bahwa perbuatan ini, jika dibolehkan kepada pembesar-pembesar musyrikin disana, maka nabi lebih pantas. Dia memiliki syubhat diawal Islam. Akan tetapi agama telah baku, dan telah diketahui bahwa sujud adalah milik Allah. Apabila hal ini … Lanjutkan membaca SUJUDNYA MUADZ, MENURUT SYAIKH IBN BAZHadits ini jika shahih, maka ada sesuatu. Akan tetapi Muadz, jika hadits ini shahih, ia menyangka bahwa perbuatan ini, jika dibolehkan kepada pembesar-pembesar musyrikin disana, maka nabi lebih pantas. Dia memiliki syubhat diawal Islam. Akan tetapi agama telah baku, dan telah diketahui bahwa sujud adalah milik Allah. Apabila hal ini tersamarkan bagi Muadz di awal Islam, tapi setelahnya bukan samar lagi bagi siapa pun. Hal 126-127Dari kitab Syarah Kasyf Syubuhat oleh Asy-Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Rahimahullah. Cetakan Maktabah Al Hadyu Al Muhammadiy – Mesirhttps://tauhidfirst.net/16-soal-jawab-bersama-asy-syaikh-ibnu-baz-seputar-udzur-bil-jahl/16 Dinukil dari : Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 31 Januari 2024Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2083086942056622&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz===Soal-jawab bersama Asy-Syaikh Ibnu Baz Seputar Udzur bil JahlDecember 12, 2014Soal-jawab bersama Asy-Syaikh Ibnu Baz Seputar Udzur bil Jahlإجابات الشيخ ابن باز حول مسألة العذر بالجهل في شرحه لكتاب كشف الشبهات السلام عليكم ورحمة الله وبركاته س : الإختلاف في مسائل العذر بالجهل هل من المسائل الخلافية ؟ج : مسألة عظيمة ، والأصل فيها أنه لا يعذر من كان بين المسلمين من بلغه القرآن والسنة ، ما يعذر. الله جل وعلا قال :” وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ “، من بلغه القرآن والسنة غير معذور ، إنما أوتي من تساهله وعدم مبالاته.Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhTanya: Ikhtilaf dalam perkara-perkara udzur bil jahl, apakah termasuk perkara khilafiyah?Jawab: (Ini) perkara besar. Pada asalnya dalam perkara ini, tidak ada udzur (bagi) orang yang (tinggal) ditengah-tengah muslimin. Barangsiapa yang sampai kepadanya Al Qur’an dan As-Sunnah tidak diudzur. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman; ((Dan telah diwahyukan kepadaku Al Qur’an ini agar aku beri peringatan kepadamu dan orang-orang yang sampai kepadanya (Al Qur’an ini)). (Syubhat ini) hanya datang dari tasahul nya(sikap bergampang-gampangan) dan ketidakpeduliannya.س : لكن هل يقال هذه مسألة خلافيةج : ليست خلافية إلا في الدقائق التي قد تخفى مثل قصة الذي قال لأهله حرقوني . صـ 26 – 271- Tanya: Akan tetapi apa (boleh) dibilang ini perkara khilafiyah?Jawab: Bukan khilafiyah kecuali pada pendetilan-pendetilan yang mungkin tersamarkan, seperti kisah orang yang berkata kepada keluarganya, bakarlah saya. (Hal 26-27)س : كثير من المنتسبين للسلفية يشترطون في إقامة الحجة أن يكون من العلماء فإذا وقع العامي على كلام كفر يقول ما نكفره ؟ج : إقامة الدليل كل على حسب حاله.2- Tanya: Mayoritas orang yang mengaku salafy mensyaratkan dalam penegakan hujjah harus dari ulama. Maka jika orang awam mendapati ucapan kufur, ia bilang; kami tidak mengkafirkannya? (maksudnya: orang awam tidak boleh mengkafirkan, tapi harus ulama –pentj)Jawab: Penegakan dalil masing-masing sesuai kapasitasnya.س: هل يجب على العامي أن يكفر من قام كفره أو قام فيه الكفرج: إذا ثبت عليه ما يوجب الكفر كفره ما المانع ؟!إذا ثبت عنده ما يوجب الكفر كفره مثل ما نكفر أبا جهل وأبا طالب وعتبة بن ربيعة وشيبة بن ربيعة ، والدليل على كفرهم أن الرسول صلى الله عليه وسلم قاتلهم يوم بدر.3- Tanya: Apakah wajib atas awam mengkafirkan orang yang kekafirannya jelas, atau jelas padanya kekafiran?Jawab: Apabila jelas padanya petunjuk yang menjadikannya kafir, ia mengkafirkannya, apa yang menghalanginya (dari ini)?! Apabila jelas baginya (awam) apa yang mengharuskan kafirnya (orang tersebut), ia mengkafirkan orang itu. Seperti kita mengkafirkan Abu Jahl dan Abu Thalib dan Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Dan dalil akan kafirnya mereka adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi mereka diperang Badr. س: يا شيخ العامي يمنع من التكفير ؟ج : العامي لا يكفِّر إلا بالدليل ، العامي ما عنده علم هذا المشكل ، لكن الذي عنده علم بشيء معين مثل من جحد تحريم الزنا هذا يكفر عند العامة والخاصة ، هذا ما فيه شبهة ، ولو قال واحد : إن الزنا حلال ، كفر عند الجميع هذا ما يحتاج أدلة ، أو قال : إن الشرك جائز يجيز للناس أن يعبدوا غير الله هل أحد يشك في هذا ؟! هذا ما يحتاج أدلة ، لو قال : إن الشرك جائز يجوز للناس أن يعبدوا الأصنام والنجوم والجن كفر.التوقف يكون في الأشياء المشكلة التي قد تخفى على العامي .صـ 34 4- Tanya: Wahai Syaikh, orang awam dilarang dari takfir?Jawab: Orang awam tidak boleh mengkafirkan kecuali dengan dalil. Orang awam tidak punya ilmu yang musykil ini. Tapi barangsiapa yang punya ilmu tentang suatu perkara, seperti orang yang mengingkari haramnya zina, orang ini kafir disisi awam atau orang berilmu. Perkara ini tidak ada syubhat. Jika ada orang bilang: Sesungguhnya zina halal. Orang ini kafir disisi semua orang, ini tidak butuh dalil-dalil. Atau orang yang mengatakan: Sesungguhnya syirik boleh. Orang ini membolehkan manusia beribadah kepada selain Allah. Apa ada orang yang ragu tentang (orang) ini?! Perkara ini tidak butuh dalil-dalil. Jika ada orang mengatakan: Sesungguhnya syirik boleh. Dia membolehkan bagi orang-orang untuk beribadah kepada berhala, bintang dan jin, orang ini kafir. Abstain hanya dalam perkara-perkara yang musykil, yang terkadang samar bagi orang awam. (Hal 34)س : ما يعرف أن الذبح عبادة والنذر عبادةج : يعلَّم ، الذي لا يعرف يعلَّم ، والجاهل يعلَّم.س : هل يحكم عليه بالشرك ؟ج : يحكم عليه بالشرك ، ويعلَّم أما سمعت الله يقول :”أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلاقال جل وعلا :” ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون “.ما وراء هذا تنديدا لهم ،نسأل الله العافية .صـ 42 5- Tanya: Dia tidak tahu bahwa menyembelih adalah ibadah, nadzar adalah ibadah!!Jawab: Diajari, yang tidak tahu diajari. Orang jahil diajari.6- Tanya: Apakah orangnya dihukumi musyrik?Jawab: Orangnya dihukumi musyrik dan diajari. Bukankah kamu mendengar firman Allah ((Apa kalian kira kebanyakan mereka mendengar atau berakal? Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya)). Allah Ta’aala berfirman: ((Dan telah kami persiapkan untuk jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi mereka tidak memahami dengannya. Dan mereka memiliki mata tapi mereka tidak melihat dengannya. Dan mereka memiliki telinga tapi mereka tidak mendengar dengannya. Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai)) (ucapan tidak dipahami). Kami minta kepada Allah keselamatan. Hal 42.س : من نشأ ببادية أو بيئة جاهلية ؟ج : يعلَّم أن هذا شرك أكبر حتى يتوب ، يقال له هذا شرك أكبر عليك بالتوبة إلى الله.مثل ما كان المشركون يطوفون بالقبور ونصبوا عند الكعبة ثلاثمائة صنم وأرشدهم النبي صلى الله عليه وسلم فالذي أجاب وهداه الله فالحمد لله والذي ما أجاب مشرك هذا وأغلبهم جهال ، خرجوا إلى بدر جهال ، وإلى أحد جهال ،تابعوا رؤساءهم.قال الله جل وعلا :” أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا“ مع هذا حكم عليهم بالكفر .صـ 55 – 567- Tanya: Orang yang tinggal di pedalaman atau lingkungan jahiliyah?Jawab: Diberitahu bahwa ini syirik besar sampai ia bertaubat. Dikatakan kepadanya ini syirik besar, wajib bagimu bertaubat kepada Allah. Contohkan (padanya) apa yang dahulu dilakukan musyrikin bahwa mereka thawaf dikubur, memasang disekitar Ka’bah 300 berhala, lalu Nabi menunjuki mereka. Orang yang menyambut, Allah beri dia hidayah Alhamdulillah. Dan orang yang tidak mau menyambut, musyrik. Inilah dan mayoritas mereka jahil. Mereka menuju perang Badr sebagai orang-orang jahil, menuju perang Uhud sebagai orang-orang jahil, mengikuti pemimpin-pemimpin mereka. Allah berfirman; ((Apa kalian kira kebanyakan mereka mendengar atau berakal? Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi jalannya)). Kendati begitu Nabi hukumi mereka sebagai orang kafir. Hal 55-56س : يذكر العلماء في أهل البادية أن الأعرابي قد يعذر فما هي المسائل التي قد يعذر فيها صاحب البادية ؟ وهل هذا خاص بزمن النبي صلى الله عليه وسلم عند بداية الإسلام ؟.ج : يعذر الأعرابي وغير الأعرابي بالشيء الذي يمكن جهله مثل بعض أركان الصلاة ، بعض أركان الزكاة ، بعض المفطرات. أما إذا جحد الصلاة رأسا وقال :لا أصلي ، أو جحد الصيام رأسا وقال لا أصوم رمضان ، ما يعذر لأن هذا الشيء معلوم من الدين بالضرورة كل مسلم يعرف هذا أو جحد شروط الحج أو أن عرفة من واجبات الحج ومن أعمال الحج لأنه قد يخفى عليه ، لكن يقر بالحج أنه فرض مثل هذه قد تخفى على العامي.8- Tanya: Ulama menyebutkan berkenaan dengan penduduk pedalaman, bahwa arab badui mungkin diudzur. Apa perkara yang mungkin diberi udzur untuk penduduk pedalaman? Dan apakah ini khusus di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat awal Islam?Jawab: Orang arab badui diberi udzur dan juga selain mereka, yaitu dalam perkara yang seseorang mungkin saja jahil seperti sebagian rukun shalat, sebagian rukun zakat, sebagian pembatal puasa.Adapun apabila mengingkari wajibnya shalat dan mengatakan: saya tidak shalat, atau mengingkari wajibnya puasa dan mengatakan; saya tidak puasa Ramadhan, ia tidak diberi udzur. Karena perkara ini darurat diketahui bagian dari agama. Semua muslim tahu ini. Atau (kalau) mengingkari syarat-syarat haji, atau bahwa (wukuf di) Arafah termasuk rukun-rukun haji dan manasik haji, perkara ini mungkin tersamarkan, tapi ia mengakui bahwa haji wajib. Perkara yang tadi mungkin tersamarkan bagi orang awam. س : يذكر يا شيخ – أحسن الله إليك – عن بعضهم أنه ما يعرف الجنابة ، وأنه ما يغتسل منها؟ج : يعلَّم ، العامي قد لا يفهم خصوصا بعض النساء ، يعلَّم ولا يكفر.9- Tanya: Semoga Allah berbuat baik kepadamu wahai Syaikh, disebutkan dari sebagian mereka bahwa seseorang tidak mengetahui junub, dan ia tidak mandi dari junub?Jawab: Orang ini diberitahu. Orang awam mungkin tidak tahu (ini), terlebih para wanita. Diajari dan tidak dikafirkan. س : من وصلته كتب منحرفة ليست فيها عقيدة ولا توحيد هل يعذر بالجهل ؟ج : إذا كان بين المسلمين ما يعذر بالشرك أما الذي قد يخفى مثل بعض واجبات الحج أو واجبات العمرة أو واجبات الصيام أو الزكاة بعض أحكام البيع ، وبعض أمور الربا ، قد يعذر وتلتبس عليه الأمور.لكن أصل الدين كونه يقول أن الحج غير مشروع أو الصيام غير واجب أو الزكاة غير واجبة ، هذا لا يخفى على المسلمين ، هذا شيء معلوم من الدين بالضرورة.10- Tanya: Barangsiapa yang sampai kepadanya kitab-kitab sesat, tidak terdapat padanya akidah maupun tauhid, apakah orang ini diberi udzur karena jahil?Jawab: Apabila ia berada diantara muslimin, ia tidak diberi udzur jikalau itu kesyirikan. Adapun perkara yang mungkin tersamarkan seperti sebagian kewajiban-kewajiban haji, atau kewajiban-kewajiban umrah, atau kewajiban-kewajiban puasa, atau zakat, sebagian hukum jual-beli dan sebagian perkara riba, seseorang mungkin diberi udzur, dan perkaranya tersamarkan olehnya. Akan tetapi pokok agama, seperti dia katakan: haji tidak disyariatkan, atau puasa tidak wajib, atau zakat tidak wajib. Perkara ini tidak samar bagi muslimin. Ini perkara yang darurat diketahui dari agama. س : لو قال لا بد أن تتوفر شروط فيمن أًريد تكفيره بعينه وتنتفي الموانع ؟ج : مثل هذه الأمور الظاهرة ما يحتاج فيها شيء ، يكفر بمجرد وجودها ، لأن وجودها لا يخفى على المسلمين ، معلوم بالضرورة من الدين بخلاف الذي قد يخفى مثل شرط من شروط الصلاة ، بعض الأموال التي تجب فيها الزكاة ، تجب أو لا تجب ، بعض شؤون الحج ، بعض شؤون الصيام ، بعض شؤون المعاملات ، بعض مسائل الربا . صـ 99 – 100.11- Tanya: Kalau seseorang mengatakan, harus terpenuhi syarat-syarat pada orang yang ingin kamu kafirkan secara personal dan tidak terdapat penghalang-penghalang?Jawab: Seperti perkara jelas ini, tidak perlu apa pun. (Seseorang) dikafirkan dengan sekedar adanya kekafiran. Karena keberadaannya tidak tersamarkan bagi muslimin, darurat diketahui dari agama. Berbeda dengan perkara yang mungkin tersamarkan, seperti syarat dari syarat-syarat shalat, sebagian harta yang wajib dizakati, apakah wajib atau tidak, sebagian urusan haji, sebagian perkara puasa, sebagian perkara mu’amalah, sebagian perkara-perkara riba. Hal 99-100.س : بعض الناس يقول : المعين لا يكفرج : هذا من الجهل ، إذا أتى بمكفر يكفر .صـ 117س : يا شيخ جملة من العاصرين ذكروا أن الكافر من قال الكفر أو عمل بالكفر فلا يكفر حتى تقام عليه الحجة ، ودرجوا عباد القبور في هذا ؟ج : هذا من جهلهم عباد القبور كفار ، واليهود كفار والنصارى كفار ولكن عند القتل يستتابون ، فإن تابوا وإلا قتلوا12- Tanya: Sebagian orang mengatakan: person tidak dikafirkan.Jawab: Ini termasuk kejahilan. Apabila seseorang melakukan kekafiran, person menjadi kafir. Hal 11713- Tanya: Wahai Syaikh, segolongan orang sekarang menyebutkan bahwa orang kafir adalah orang yang mengucapkan kekufuran, atau mengerjakan kekufuran. Maka ia tidak dikafirkan sampai ditegakkan padanya hujjah. Dan memasukkan para penyembah kubur dalam masalah ini?Jawab: Ini diantara kejahilan mereka. Para penyembah kubur kafir. Yahudi dan Kristen kafir. Tapi berkenaan dengan hukum bunuh, para penyembah kubur diminta taubat (dulu), jika ia taubat (dilepas) jika tidak mereka dibunuh. س : يا شيخ مسألة قيام الحجة ؟ج : بلغهم القرآن ،هذا بلاغ للناس ، القرآن بلغهم وبين المسلمين “وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ“” هذا بلاغ للناس ” ، ” يا أيها الرسول بلغ “قد بلغ الرسول ، وجاء القرآن وهم بين أيدينا يسمعونه في الإذاعات ويسمعون في غيرها ، ولا يبالون ولا يلتفتون ، وإذا جاء أحد ينذرهم ينهاهم آذوه ، نسأل الله العافية14- Tanya: Wahai Syaikh, perkara penegakan hujjah?Jawab: Barangsiapa sampai kepadanya Al Qur’an, (((al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia)). Al Qur’an sampai kepada mereka dan berada ditengah-tengah muslimin. ((Dan diwahyukan kepadaku Al Qur’an ini agar aku beri peringatan kepada kalian dengannya dan orang-orang yang sampai kepadanya (Al Qur’an)), (((al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia)). ((Wahai Rasul, sampaikanlah!)). Dan Rasul telah menyampaikan, dan Al Qur’an datang dan mereka ada ditengah-tengah kita, mendengarnya melalui siaran-siaran, dan mendengarnya melalui sarana lainnya. Tapi mereka tidak peduli dan tidak memperhatikannya. Dan apabila ada seseorang yang memperingatkan mereka, melarang mereka, orang-orang itu malah menyakitinya. Kita minta kepada Allah keselamatan. س : حديث الرجل الذي قال إذا مت حرقوني ؟ج : هذا جهل بعض السنن من الأمور الخفية من كمال القدرة ، جهلها فعذر حمله على ذلك خوف الله ، وجهل تمام القدرة فقال لأهله ما قال.15- Tanya: Hadits orang yang berkata, jika aku mati bakarlah aku?Jawab: Ini jahil akan sebagian sunnah, termasuk perkara yang samar, (jahil) dari kesempurnaan takdir. Orang ini jahil tentangnya, maka diudzur. Yang menjadikannya seperti itu karena takut kepada Allah. (Ia) jahil akan kesempurnaan takdir, sehingga ia berkata kepada keluarganya seperti itu.س: سجود معاذ للنبي صلى الله عليه وسلم ؟ج : هذا إن صح في صحته نظر ، لكن معاذ لو صح ظن أن هذا إذا جاز لكبار قادة المشركين هناك فالنبي أفضل ، هذا له شبهة في أول الإسلام ، لكن استقر الدين وعرف أن السجود لله ،وإذا كان هذا أشكل على معاذ في أول الأمر لكن بعده ما يشكل على أحد . صـ 126 – 127من كتاب شرح كشف الشبهات للشيخ العلامة عبد العزيز ابن باز – رحمه الله – طبعة مكتبة الهدي المحمدي – مصر16- Tanya: Sujudnya Mu’adz kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?Jawab: Hadits ini jika shahih, maka ada sesuatu. Akan tetapi Muadz, jika hadits ini shahih, ia menyangka bahwa perbuatan ini, jika dibolehkan kepada pembesar-pembesar musyrikin disana, maka nabi lebih pantas. Dia memiliki syubhat diawal Islam. Akan tetapi agama telah baku, dan telah diketahui bahwa sujud adalah milik Allah. Apabila hal ini tersamarkan bagi Muadz diawal Islam, tapi setelahnya bukan samar lagi bagi siapa pun. Hal 126-127Dari kitab Syarah Kasyf Syubuhat oleh Asy-Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Rahimahullah. Cetakan Maktabah Al Hadyu Al Muhammadiy – Mesir. http://majles.alukah.net/t20453/Dinukil dari : https://tauhidfirst.net/16-soal-jawab-bersama-asy-syaikh-ibnu-baz-seputar-udzur-bil-jahl/.

Murjiah paling keji adalah mereka yang menuduh sahabat Nabi melakukan kekafiran untuk membela para penyembah kuburan. Menuduh Muadz melakukan kekufuran dengan sujud kepada Nabi ﷺ, padahal sujud yang Muadz lakukan sujud penghormatan yang saat itu belum dilarang. Ditambah lagi riwayat apakah Muadz sampe sujud atau gak sampe sujud muththarib/guncang dan bahwa yang benar adalah setelah Muadz ke Yaman, beliau tidak balik kembali ke Madinah sampai Nabi ﷺ wafat. Cek pembahasan kritik haditsnya disini: https://tauhidfirst.net/kisah-sujudnya-muadz-kepada-nabi-lemah-munkar/Dinukil dari : Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 30 Januari 2024Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2083096972055619&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz====Kisah Sujudnya Muadz Kepada Nabi : Lemah & Munkar!November 10, 2014Berkata Al Imam Ibnu Majah Rahimahullah dalam Sunan-nya (1853)Azhar bin Marwan bercerita kepada kami, Hammad bin Zaid bercerita kepada kami, dari Ayyub, dari Al Qasim Asy-Syaibani, dari Abdullah bin Abi Auf, ia berkata: ((Ketika Muadz datang dari Syam, ia sujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi berkata: Apa ini wahai Muadz? Muadz menjawab: Aku datang ke Syam dan aku dapati mereka sujud kepada pemimpin dan pendeta-pendeta mereka. Maka aku ingin melakukan seperti mereka kepadamu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: Jangan lakukan itu, karena jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, tentu telah aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. Sungguh demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, seorang wanita tidak dinilai menunaikan hak Rabnya sampai ia menunaikan hak suaminya. Dan kapan sang suami memanggil istrinya meski ia diatas pelana unta jangan menolaknya)). Rabi bin Hadi هداه الله : Hadits Muadz Radhiyallahu ‘Anhu seputar sujudnya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sanad dan maknanya tidak shahih.1- Adapun dari sisi maknanya, tidak benar bahwa ia pergi ke Syam semasa nabi masih hidup. Melainkan yang benar ia pergi kesana pada masa Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan beliau wafat disana akibat penyakit tha’un.Dan dalam hadits lain dikatakan: “Ketika ia pulang dari Yaman” padahal ia tidak pergi ke Yaman kecuali pada akhir hayat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian saat Nabi wafat, Muadz masih di Yaman dan tidak kembali kecuali pada masa Khalifah Abu Bakr Radhiyallahu ‘Anhu.Kemudian Muadz termasuk kibar Shahabat dan fuqaha Shahabat, sangat jauh dia sampai jahil dalam masalah ini.Dan dari sisi matn, padanya terdapat ikhtilaf sebagaimana akan datang penjelasannya.2- Adapun dari sisi sanad, padanya terdapat nakarah (munkar). Porosnya ada pada Al Qashim bin Auf Asy-Syaibani, ia dilemahkan oleh Yahya bin Said Al Qaththan dan Syu’bah sebagaimana yang diisyarat Al Qaththan sendiri.Abu Hatim mengatakan: (Orang ini) muththaribul hadits wa mahallahu ‘indi Ash-Shidq /riwayatnya guncang meski dia jujur.An-Nasa’i berkata: (Orang ini) lemah.Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam “Ats-Tsiqaat”Adz-Dzahabi mengatakan dalam “Al Kasyif” : Mukhtalafun fi halihi / keadaannya diperdebatkan.Al Hafidz mengatakan: Shaduuqun yaghrib / jujur tapi suka membawakan riwayat asing.Periksa biografinya dalam “Tahdzib At-Tahdzib” (8/326-327). “Al Kamil” karya Ibnu Adiy (6/37), “Al Mizan” karya Adz-Dzahabi (3/376) dan “Al Kasyif” karya Adz-Dzahabi dan “At-Taqrib” karya Al Hafidz Ibnu Hajar.Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (4/381) dari jalan Ismail bin Ulayyah dari Ayyub dari Al Qasim bin Auf Asy-Syaibani dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: ((Muadz datang dari Yaman atau Syam. (Disana) ia melihat orang-orang Kristen sujud kepada pemimpin dan pendeta-pendeta mereka. Maka ia merasa bahwa Rasulullah lebih berhak dimuliakan. Katika ia datang, ia berkata: Wahai Rasulullah! Aku lihat orang-orang Kristen sujud kepada pemimpin dan pendeta-pendeta mereka, maka aku merasa Anda lebih berhak dimuliakan. Rasulullah berkata: Kalau (boleh) aku memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, aku sudah perintahkan wanita sujud kepada suaminya))Dan Ahmad meriwayatkan dari Waqi dari Al A’masy dari Abi Dhabyan dari Muadz, ia berkata: ((Wahai Rasulullah! Aku menyaksikan orang-orang di Yaman sebagian mereka sujud kepada yang lainnya, bolehkah kami sujud kepadamu? Rasulullah berkata: Kalau (boleh) aku perintahkan manusia sujud kepada manusia, tentulah aku sudah perintahkan wanita sujud kepada suaminya))Dan Ahmad meriwayatkan dari jalan Ibnu Numair, ia berkata: Aku mendengar Aba Dhabyan bercerita dari seorang anshar dari Muadz hadits serupa dengan ini.Musnad (4/277)Maka hadits dari jalan Al Qashim dan Abu Dhabyan tidak terdapat keterangan bahwa Muadz sampai sujud kepada Nabi. Melainkan ia menawarkan diri untuk sujud kepada Rasul, namun Rasul menolaknya.Inilah kandungan dari hadits ini dari dua sisi diatas. Ditambah lagi hadits dari jalan Al Qasim telah dinilai mu’all (sakit) oleh Abu Hatim dengan sebab iththirab / guncang. Lihat “Al Ilal” karya Ibnu Abi Hatim (2/253) dan juga dinilai mu’al l oleh Ad-Daruquthni dalam Ilal nya (6/3-37).Adapun hadits Abu Dhabyan dinilai mu’all dengan sebab ikhtilaf / perselisihan pada sanadnya dan adanya inqitha’ / terputus. Karena Abu Dhabyan tidak pernah mendengar dari Muadz. Lihat “Al Ilal” (6/39-40)Adapun penegasan bahwa Muadz telah sujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Majah pada hadits (1853) dan Ibnu Hibban dalam Shahih nya (4171) dan Al Baihaqi (7/292) dari berbagai jalan dari Hammad bin Zaid dari Al Qashim Asy-Syaibani dari Abdullah bin Abi Aufa. Dan di dalamnya terdapat keterangan sujudnya Muadz kepada Nabi. Maka poros jalan-jalan ini semuanya kepada Al Qashim Asy-Syaibani.Ad-Daruquthni menyebutkan dalam Ilal (6/37-39): Hadits ini memiliki jalan-jalan lain, diantaranya yang sudah disebutkan.Diantaranya dari Al Qashim dari Zaid bin Arqam dari MuadzDiantaranya (juga) dari Al Qashim dari Abdurrahman bin Abi Layla dari ayahnya dari Muadz.Diantaranya (juga) dari Abdurrahman bin Abi Layla dari ayahnya dari Suhaib dari Muadz.Kemudian Ad-Daruquthni berkata: Keguncangan / iththirab pada hadits ini bersumber pada Al Qashim bin Auf.Inilah kondisi hadits ini yang dinisbatkan kepada Muadz, padanya terdapat banyak illat / penyakit.1- Lemahnya Al Qashim bin Auf Asy-Syaibani.2- Guncangnya dia pada banyak sanad.3- Perselisihan pada matnnya.4- Terputus pada sanad Abu Dhabyan antara dia dengan Muadz.5- Ikhtilaf padanya.Dan kami menganggap tidak mungkin perbuatan seperti ini dilakukan oleh seorang shahabat yang faqih lagi mulia sekelas Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu.Maka hadits yang seperti ini keadaannya tidak boleh dijadikan sandaran hukum syar’i apalagi dalam perkara akidah.Adapun lafaz : ((Kalau boleh aku perintahkan seseorang sujud kepada orang lain…dst) ini hadits yang shahih insyaallah berdasarkan keseluruhan jalannya dari Abu Hurairah, Anas dan Aisyah. Lihat “Al Irwa’” karya Al Allamah Al Albani (7/54-55)Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=26163Dinukil dari : https://tauhidfirst.net/kisah-sujudnya-muadz-kepada-nabi-lemah-munkar/.

Murjiah paling keji adalah mereka yang menuduh sahabat Nabi melakukan kekafiran untuk membela para penyembah kuburan. Menuduh Muadz melakukan kekufuran dengan sujud kepada Nabi ﷺ, padahal sujud yang Muadz lakukan sujud penghormatan yang saat itu belum dilarang. Ditambah lagi riwayat apakah Muadz sampe sujud atau gak sampe sujud muththarib/guncang dan bahwa yang benar adalah setelah … Lanjutkan membaca Murjiah paling keji adalah mereka yang menuduh sahabat Nabi melakukan kekafiran untuk membela para penyembah kuburan. Menuduh Muadz melakukan kekufuran dengan sujud kepada Nabi ﷺ, padahal sujud yang Muadz lakukan sujud penghormatan yang saat itu belum dilarang. Ditambah lagi riwayat apakah Muadz sampe sujud atau gak sampe sujud muththarib/guncang dan bahwa yang benar adalah setelah Muadz ke Yaman, beliau tidak balik kembali ke Madinah sampai Nabi ﷺ wafat. Cek pembahasan kritik haditsnya disini: https://tauhidfirst.net/kisah-sujudnya-muadz-kepada-nabi-lemah-munkar/Dinukil dari : Jafar Shalih وفقه اللهTanggal : 30 Januari 2024Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2083096972055619&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz====Kisah Sujudnya Muadz Kepada Nabi : Lemah & Munkar!November 10, 2014Berkata Al Imam Ibnu Majah Rahimahullah dalam Sunan-nya (1853)Azhar bin Marwan bercerita kepada kami, Hammad bin Zaid bercerita kepada kami, dari Ayyub, dari Al Qasim Asy-Syaibani, dari Abdullah bin Abi Auf, ia berkata: ((Ketika Muadz datang dari Syam, ia sujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi berkata: Apa ini wahai Muadz? Muadz menjawab: Aku datang ke Syam dan aku dapati mereka sujud kepada pemimpin dan pendeta-pendeta mereka. Maka aku ingin melakukan seperti mereka kepadamu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: Jangan lakukan itu, karena jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, tentu telah aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. Sungguh demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, seorang wanita tidak dinilai menunaikan hak Rabnya sampai ia menunaikan hak suaminya. Dan kapan sang suami memanggil istrinya meski ia diatas pelana unta jangan menolaknya)). Rabi bin Hadi هداه الله : Hadits Muadz Radhiyallahu ‘Anhu seputar sujudnya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sanad dan maknanya tidak shahih.1- Adapun dari sisi maknanya, tidak benar bahwa ia pergi ke Syam semasa nabi masih hidup. Melainkan yang benar ia pergi kesana pada masa Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan beliau wafat disana akibat penyakit tha’un.Dan dalam hadits lain dikatakan: “Ketika ia pulang dari Yaman” padahal ia tidak pergi ke Yaman kecuali pada akhir hayat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian saat Nabi wafat, Muadz masih di Yaman dan tidak kembali kecuali pada masa Khalifah Abu Bakr Radhiyallahu ‘Anhu.Kemudian Muadz termasuk kibar Shahabat dan fuqaha Shahabat, sangat jauh dia sampai jahil dalam masalah ini.Dan dari sisi matn, padanya terdapat ikhtilaf sebagaimana akan datang penjelasannya.2- Adapun dari sisi sanad, padanya terdapat nakarah (munkar). Porosnya ada pada Al Qashim bin Auf Asy-Syaibani, ia dilemahkan oleh Yahya bin Said Al Qaththan dan Syu’bah sebagaimana yang diisyarat Al Qaththan sendiri.Abu Hatim mengatakan: (Orang ini) muththaribul hadits wa mahallahu ‘indi Ash-Shidq /riwayatnya guncang meski dia jujur.An-Nasa’i berkata: (Orang ini) lemah.Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam “Ats-Tsiqaat”Adz-Dzahabi mengatakan dalam “Al Kasyif” : Mukhtalafun fi halihi / keadaannya diperdebatkan.Al Hafidz mengatakan: Shaduuqun yaghrib / jujur tapi suka membawakan riwayat asing.Periksa biografinya dalam “Tahdzib At-Tahdzib” (8/326-327). “Al Kamil” karya Ibnu Adiy (6/37), “Al Mizan” karya Adz-Dzahabi (3/376) dan “Al Kasyif” karya Adz-Dzahabi dan “At-Taqrib” karya Al Hafidz Ibnu Hajar.Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (4/381) dari jalan Ismail bin Ulayyah dari Ayyub dari Al Qasim bin Auf Asy-Syaibani dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: ((Muadz datang dari Yaman atau Syam. (Disana) ia melihat orang-orang Kristen sujud kepada pemimpin dan pendeta-pendeta mereka. Maka ia merasa bahwa Rasulullah lebih berhak dimuliakan. Katika ia datang, ia berkata: Wahai Rasulullah! Aku lihat orang-orang Kristen sujud kepada pemimpin dan pendeta-pendeta mereka, maka aku merasa Anda lebih berhak dimuliakan. Rasulullah berkata: Kalau (boleh) aku memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, aku sudah perintahkan wanita sujud kepada suaminya))Dan Ahmad meriwayatkan dari Waqi dari Al A’masy dari Abi Dhabyan dari Muadz, ia berkata: ((Wahai Rasulullah! Aku menyaksikan orang-orang di Yaman sebagian mereka sujud kepada yang lainnya, bolehkah kami sujud kepadamu? Rasulullah berkata: Kalau (boleh) aku perintahkan manusia sujud kepada manusia, tentulah aku sudah perintahkan wanita sujud kepada suaminya))Dan Ahmad meriwayatkan dari jalan Ibnu Numair, ia berkata: Aku mendengar Aba Dhabyan bercerita dari seorang anshar dari Muadz hadits serupa dengan ini.Musnad (4/277)Maka hadits dari jalan Al Qashim dan Abu Dhabyan tidak terdapat keterangan bahwa Muadz sampai sujud kepada Nabi. Melainkan ia menawarkan diri untuk sujud kepada Rasul, namun Rasul menolaknya.Inilah kandungan dari hadits ini dari dua sisi diatas. Ditambah lagi hadits dari jalan Al Qasim telah dinilai mu’all (sakit) oleh Abu Hatim dengan sebab iththirab / guncang. Lihat “Al Ilal” karya Ibnu Abi Hatim (2/253) dan juga dinilai mu’al l oleh Ad-Daruquthni dalam Ilal nya (6/3-37).Adapun hadits Abu Dhabyan dinilai mu’all dengan sebab ikhtilaf / perselisihan pada sanadnya dan adanya inqitha’ / terputus. Karena Abu Dhabyan tidak pernah mendengar dari Muadz. Lihat “Al Ilal” (6/39-40)Adapun penegasan bahwa Muadz telah sujud kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, riwayat ini dibawakan oleh Ibnu Majah pada hadits (1853) dan Ibnu Hibban dalam Shahih nya (4171) dan Al Baihaqi (7/292) dari berbagai jalan dari Hammad bin Zaid dari Al Qashim Asy-Syaibani dari Abdullah bin Abi Aufa. Dan di dalamnya terdapat keterangan sujudnya Muadz kepada Nabi. Maka poros jalan-jalan ini semuanya kepada Al Qashim Asy-Syaibani.Ad-Daruquthni menyebutkan dalam Ilal (6/37-39): Hadits ini memiliki jalan-jalan lain, diantaranya yang sudah disebutkan.Diantaranya dari Al Qashim dari Zaid bin Arqam dari MuadzDiantaranya (juga) dari Al Qashim dari Abdurrahman bin Abi Layla dari ayahnya dari Muadz.Diantaranya (juga) dari Abdurrahman bin Abi Layla dari ayahnya dari Suhaib dari Muadz.Kemudian Ad-Daruquthni berkata: Keguncangan / iththirab pada hadits ini bersumber pada Al Qashim bin Auf.Inilah kondisi hadits ini yang dinisbatkan kepada Muadz, padanya terdapat banyak illat / penyakit.1- Lemahnya Al Qashim bin Auf Asy-Syaibani.2- Guncangnya dia pada banyak sanad.3- Perselisihan pada matnnya.4- Terputus pada sanad Abu Dhabyan antara dia dengan Muadz.5- Ikhtilaf padanya.Dan kami menganggap tidak mungkin perbuatan seperti ini dilakukan oleh seorang shahabat yang faqih lagi mulia sekelas Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu.Maka hadits yang seperti ini keadaannya tidak boleh dijadikan sandaran hukum syar’i apalagi dalam perkara akidah.Adapun lafaz : ((Kalau boleh aku perintahkan seseorang sujud kepada orang lain…dst) ini hadits yang shahih insyaallah berdasarkan keseluruhan jalannya dari Abu Hurairah, Anas dan Aisyah. Lihat “Al Irwa’” karya Al Allamah Al Albani (7/54-55)Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=26163Dinukil dari : https://tauhidfirst.net/kisah-sujudnya-muadz-kepada-nabi-lemah-munkar/.