“Al-Imam Asy-Syafi’i menyatakan : “Jika terdapat hadits shahih, itulah madzhabku”

Para ulama kibar madzhab Syafi’i ramai-ramai menjelaskan makna pernyataan sang Imam diatas karena para ulama madzhab Syafi’i-lah yang paling memahami perkataan Asy-Syafi’i daripada selainnya. Pepatah mengatakan :

أهل الدار أدرى بما فيها

“Sang empu rumah jauh lebih mengetahui tentang isi rumah”

Maka jangan tergesa-gesa untuk merasa terbidik oleh pernyataan Asy-Syafi’i diatas, karena hakikatnya kalimat tersebut beliau tujukan untuk para ulama yang mengikuti madzhab beliau.  Diantara para ulama Syafi’iyyah selain As-Subki yang memiliki risalah mustaqillah tentang hal ini, ialah An-Nawawi rahimahullah. Beliau menjelaskan maksud ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i diatas :

وهذا الذى قاله الشافعي ليس معناه ان كل أحد رأى حديثا صحيحا قال هذا مذهب الشافعي وعمل بظاهره: وانما هذا فيمن له رتبة الاجتهاد في المذهب على ما تقدم من صفته أو قريب منه

وشرطه أن يغلب على ظنه أن الشافعي رحمه الله لم يقف على هذا الحديث أو لم يعلم صحته: وهذا انما يكون بعد مطالعة كتب الشافعي كلها ونحوها من كتب أصحابه الآخذين عنه وما أشبهها وهذا شرط صعب قل من ينصف به وانما اشترطوا ما ذكرنا لان الشافعي رحمه الله ترك العمل بظاهر أحاديث كثيرة رآها وعلمها لكن قام الدليل عنده على طعن فيها أو نسخها أو تخصيصها أو تأويلها أو نحو ذلك.

Bukanlah maksud dari nasihat Al-Imam Syafi’i ini adalah bahwa setiap orang yang melihat hadits yang shahih maka ia langsung berkata “Inilah madzhab Syafi’i” dan ia segera mengamalkan kandungan yang nampak dalam hadits tersebut. Pernyataan beliau ini hanya di tujukan kepada orang yang telah mencapai derajat ijtihad dalam madzhab sebagaimana telah kami terangkan mengenai kriteria sifat-sifat mujtahid atau yang mendekatinya.

Syarat seorang menjadi mujtahid madzhab yang ia dapat diperkenankan mengamalkan wasiat Al-Imam Syafi’i tersebut adalah telah kuat dugaannya bahwa Al-Imam Syafi’i tidak mengetahui hadits tersebut atau tidak mengetahui keshahihan haditsnya. Hal ini hanya didapatkan setelah menelaah semua kitab Al-Imam Syafi’i dan kitab-kitab pengikut beliau yang mengambil ilmu secara langsung dari beliau. Syarat ini sangat sulit terealisasi dan sangat jarang sekali orang yang memilikinya. Para ulama memberikan syarat demikian karena Al-Imam Syafi’i kerap tidak mengamalkan kandungan yang nampak dari hadits  yang beliau temukan dan beliau ketahui namun itu karena ada dalil yang menunjukkan cacatnya hadits itu atau hadits itu telah di-nashk, di-takhshish, atau di-takwil atau lain semisalnya.

(Al-Majmu’ Jilid 1 hal. 63)

Maka pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i diatas adalah khusus untuk para ulama mujtajid bukan untuk orang awam. Demikian juga dengan pernyataan semisal dari para imam lainnya, pahamilah dengan pemahaman para ulama”

Dinukil dari : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه الله
Tanggal : 6 Januari 2020
Sumber : https://www.facebook.com/share/v/hVM5yduJum3kcTdj/?mibextid=Nif5oz