Para ulama memiliki berbagai metode yang beranekaragam dalam membantah pelaku penyimpangan, ada sebagian diantara mereka yang membantah pelaku penyimpangan dengan penuturan dari tokoh dikelompok tersebut semisal yang sering dilakukan oleh Syaikhul Islam di Al-Fatwa Al-Hamawiyah Al-Kubro, atau ada sebagian ulama yang membantah pelaku penyimpangan dengan dalil yang digunakan pelaku penyimpangan itu sendiri, semisal Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi di kitab beliau Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah.
Namun yang mengutip ucapan tokoh sekte yang menyimpang ialah orang-orang yang telah kokoh ilmunya dan ditujukan untuk membantah sekte mereka sendiri. Adapun kutipan ucapan tokoh suatu sekte menyimpang untuk membantah sekte menyimpang yang lainnya, maka ini tidak disukai oleh para ulama.
Contoh, ketika hendak membantah Mu’tazilah tidak dibutuhkan dengan argumentasi kaum Asy’ari. Demikian pula ketika membantah Hizbut Tahrir, tidak dibutuhkan argumentasi hizbiyyun lainnya. Oleh karena itulah Marwan bin Muhammad Ath-Thothiri menuturkan :
ثلاثة لا يؤتمنون :
الصوفي، والقصاص، ومبتدع يرد على المبتدعة
Ada tiga jenis manusia yang kita tidak merasa aman dari mereka :
1. Sufi
2. Tukang cerita
3. Ahli bid’ah yang membantah ahli bid’ah
Karena pada setiap argumentasi ahli bid’ah terdapat Syubuhat yang sulit terdeteksi oleh orang awam atau penuntut ilmu pemula, ia hanya tersingkap dihadapan orang-orang yang telah kokoh ilmunya. Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin juga menuturkan bahwa bid’ah tidak dapat dibantah dengan bid’ah, melainkan dengan Sunnah.
Oleh : Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin وفقه الله
Tanggal : 27 September 2018
Sumber :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02ahmgvzFnVJQbFMtEioER2zbL3NaU2JK4rLuezxY9TVKWgTu3NR8VDLx8eZqUwLnHl&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz